Medan (buseronline.com) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara memastikan ketersediaan dan harga bahan pokok menjelang bulan suci Ramadan hingga Hari Raya Idulfitri 2026 berada dalam kondisi aman dan stabil.
Kepastian tersebut didukung oleh kondisi stok pangan Sumut yang saat ini surplus, serta berbagai intervensi melalui Program Jaminan Kestabilan Harga Komoditas Pangan (Jaskop).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut, Timur Tumanggor, mengatakan stok pangan yang mencukupi menjadi modal utama dalam menjaga stabilitas harga menjelang periode tingginya permintaan masyarakat.
“Stok pangan kita sekarang surplus, sehingga menjelang bulan Ramadan hingga Hari Raya Idulfitri nanti, kita pastikan kondisinya tetap terjaga dan harga bahan pokok bisa stabil, tidak terlalu naik,” ujar Timur dalam konferensi pers yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika Sumut di Lobby Dekranasda Kantor Gubernur Sumut, Rabu.
Timur memaparkan, sepanjang tahun 2025 Sumatera Utara mengalami surplus beras yang signifikan. Produksi beras Sumut tercatat mencapai lebih dari 2.222.000 ton, sementara kebutuhan konsumsi masyarakat sekitar 1,7 juta ton per tahun. Dengan demikian, terdapat surplus sekitar 501 ribu ton yang juga berkontribusi menjadikan Sumut sebagai daerah penyuplai beras bagi provinsi lain.
Tidak hanya beras, sejumlah komoditas strategis lainnya juga berada dalam kondisi surplus. Produksi cabai merah mencapai sekitar 134 ribu ton, jagung 135 ribu ton, serta cabai rawit sebesar 65 ribu ton.
Meski demikian, Timur mengakui harga cabai merah masih berpotensi mengalami fluktuasi karena sebagian hasil produksi dipasarkan ke luar daerah dengan harga yang lebih tinggi.
“Untuk harga cabai merah terkadang berfluktuasi karena cabai dijual ke provinsi lain dengan harga lebih tinggi. Oleh karena itu, kita lakukan intervensi saat panen untuk menjaga stok dan harga tetap terkendali,” jelasnya.
Dalam menjaga kesinambungan produksi, dilansir dari laman Diskominfo Sumut, Pemprov Sumut juga mengembangkan kawasan unggulan pangan. Kawasan unggulan padi difokuskan di lima kabupaten/kota, di antaranya Deliserdang, Serdangbedagai, dan Asahan. Sementara untuk cabai merah, kawasan unggulan dikembangkan di Kabupaten Karo dan Batubara.
“Untuk kawasan ini kita intervensi mulai dari alat dan mesin pertanian (alsintan), pupuk, hingga bibit, supaya produksi kita tetap terjaga dan surplus,” ujar Timur.
Selain aspek produksi, Pemprov Sumut juga melakukan langkah cepat pemulihan lahan pertanian pascabencana. Tercatat, sebanyak 31.123 hektare lahan pertanian di Sumut terdampak bencana, dengan rincian lebih dari 22 ribu hektare rusak ringan, sekitar 4.500 hektare rusak sedang, dan 4.560 hektare rusak berat.
“Kecamatan Tukka, Sibolga ada 94 hektare lahan yang rusak dan langsung kita intervensi dengan penanaman kembali serta pemberian bibit. Untuk kerusakan lahan sedang dan berat di daerah lain juga akan kita intervensi melalui kolaborasi dan gotong royong antara Kementerian Pertanian, provinsi, serta kabupaten/kota,” terang Timur.
Sebelumnya, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan (Bappelitbang) Sumut, Dikky Anugrah, menjelaskan bahwa melalui program Jaskop sepanjang 2025, Pemprov Sumut telah membangun 10 unit Solar Dryer Dome (SDD) dan 10 unit gudang penyimpanan di dua kabupaten sentra produksi cabai terbesar, yakni Batubara dan Karo.
“Ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi pascapanen, menurunkan kehilangan hasil, serta menjaga stabilitas pasokan cabai sebagai komoditas strategis penyumbang inflasi,” ujar Dikky.
Ia menambahkan, setiap unit SDD memiliki kapasitas hingga 2 ton cabai merah yang dikelola kelompok tani penerima manfaat. Kehadiran fasilitas ini mampu menurunkan risiko kehilangan pascapanen hingga 20 persen dan meningkatkan pendapatan petani sampai 22 persen.
Untuk meredam gejolak inflasi sepanjang 2025, Pemprov Sumut melalui BUMD juga melakukan pembelian dan penyaluran 50 ton cabai merah dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kebijakan tersebut diambil saat harga cabai merah di sejumlah pasar tradisional Sumut sempat menembus di atas Rp100 ribu per kilogram.
“Langkah ini terbukti efektif menstabilkan harga, di samping operasi pasar murah dan pasar murah bergerak. Hasilnya, pada November 2025 angka inflasi Sumut turun menjadi 3,96 persen,” pungkas Dikky.
Dengan kondisi stok pangan yang surplus serta intervensi berkelanjutan, Pemprov Sumut optimistis stabilitas harga dan ketersediaan pangan menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026 dapat terus terjaga demi mendukung daya beli dan kesejahteraan masyarakat. (R)