Medan (buseronline.com) - Penanganan penyakit tuberkulosis (TBC) membutuhkan kerja sama semua pihak. Hal ini ditegaskan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Medan, Wiriya Alrahman, saat membuka Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis dan Sosialisasi Rencana Aksi Daerah (RAD) TBC Kota Medan 2025, di Balai Kota Medan, Rabu.Dalam kesempatan itu, Wiriya hadir mewakili Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas. Hadir pula Kepala Bappeda Kota Medan, Ferry Ichsan, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan, M Sofyan, serta para kepala puskesmas se-Kota Medan.Wiriya menjelaskan, Indonesia saat ini masih menjadi negara dengan jumlah kasus TBC tertinggi kedua di dunia. Penyakit ini kerap tidak disadari karena gejalanya samar, namun mudah menular melalui udara, bahkan di lingkungan keluarga. Ia menyebut pola penularan TBC mirip dengan COVID-19 yang pernah menjadi wabah global sehingga membutuhkan kewaspadaan tinggi.“Langkah utama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi masyarakat yang sudah tertular. Tanpa itu, kita sulit memutus rantai penularan. Setelah teridentifikasi, barulah dilakukan upaya pencegahan agar tidak menular ke orang lain dan memastikan penderita menjalani pengobatan hingga sembuh,” jelasnya.Lebih lanjut, Wiriya menekankan pentingnya Rencana Aksi Daerah (RAD) sebagai pedoman kerja Satuan Tugas TBC. Ia mengingatkan agar rencana aksi tidak sekadar tertulis di atas kertas, melainkan benar-benar diimplementasikan di lapangan. Karena itu, puskesmas dan puskesmas pembantu diminta aktif melakukan deteksi dini di wilayah masing-masing.“Penanganan TBC tidak bisa hanya dibebankan pada tenaga medis. Diperlukan keterlibatan lintas sektor, termasuk dinas terkait, pemerhati kesehatan lingkungan, hingga perangkat daerah. Tugas kita bukan hanya mengobati, tapi juga mencegah, mensosialisasikan, dan memperbaiki lingkungan yang rentan menjadi tempat berkembangnya bakteri TBC,” ujarnya.Di akhir sambutannya, Wiriya mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terlibat aktif dalam upaya pemberantasan TBC di Kota Medan.“Jangan berpikir kita aman, karena siapa pun bisa tertular ketika daya tahan tubuh melemah. Ini tanggung jawab bersama pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat,” pungkasnya. (R)