Medan (buseronline.com) - Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) akan melakukan intervensi langsung terhadap anak-anak yang belum pernah mendapatkan imunisasi atau tergolong zero-dose. Langkah ini diambil menyusul tingginya jumlah anak yang belum divaksin di Sumut yang mencapai puluhan ribu jiwa.Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sumut, jumlah anak zero-dose pada tahun 2024 mencapai 91.636 jiwa atau 24 persen dari total 289.000 anak di Sumut. Angka ini diprediksi meningkat menjadi 96.806 anak pada pertengahan tahun 2025.Tingginya angka anak yang belum divaksin ini dinilai sangat mengkhawatirkan, mengingat mereka rentan terhadap berbagai penyakit berbahaya yang sebenarnya dapat dicegah, seperti campak, polio, difteri, tetanus, dan hepatitis.Hal tersebut mengemuka dalam Rapat Percepatan Penurunan Jumlah Anak Zero-Dose yang digelar di Ruang Rapat 2, Lantai 2, Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro No 30 Medan, Jumat. Rapat tersebut dipimpin Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Sumut, Kahiyang Ayu, bersama Sekretaris Daerah Provinsi Sumut, Togap Simangunsong.Kahiyang Ayu menyatakan bahwa penanganan zero-dose akan dilakukan secara langsung dengan menjangkau keluarga-keluarga yang anaknya belum pernah divaksin. Upaya ini akan mengandalkan peran aktif Posyandu, Puskesmas, serta kader Dasawisma yang dimiliki PKK.“Di PKK kita punya Dasawisma, kelompok terkecil yang bisa menjangkau hingga ke keluarga. Kita akan memaksimalkannya dalam mengatasi zero-dose. Selain itu, juga memaksimalkan peran Posyandu,” ujar Kahiyang Ayu.Ia menambahkan, karena sebagian besar anak zero-dose berada di wilayah terpencil, intervensi juga akan melibatkan komunitas dan organisasi non-pemerintah (NGO).“Kita tentu perlu mengidentifikasi terlebih dahulu. Ini membutuhkan sumber daya besar, sehingga kita akan bekerja sama dengan komunitas dan NGO untuk menjangkau daerah-daerah terpencil,” katanya.Kepala Dinas Kesehatan Sumut, dr Muhammad Faisal Hasrimy, dalam kesempatan yang sama mengungkapkan kekhawatiran terhadap dampak dari meningkatnya angka zero-dose terhadap kesehatan masyarakat.“Anak-anak yang tidak divaksin sangat rentan terkena penyakit seperti polio, hepatitis, tuberkulosis, difteri, dan lainnya. Bahkan penyakit yang sebelumnya sudah kita kendalikan bisa kembali muncul,” jelas Faisal.Ia mengingatkan, pada tahun 2014 Indonesia telah mendapatkan sertifikat bebas polio. Namun, pada tahun 2024 kembali ditemukan kasus polio, yang menunjukkan potensi ancaman besar bagi anak-anak yang belum divaksin.Rapat ini turut dihadiri oleh sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemprov Sumut, perwakilan kabupaten/kota, komunitas pemerhati anak, NGO, serta organisasi kemasyarakatan terkait lainnya.Rapat tersebut menegaskan komitmen bersama dalam menekan angka zero-dose demi menciptakan generasi sehat dan bebas dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. (R)