Medan (buseronline.com) - Tepat satu tahun kepergian Naras Em Drs Eddy Madya Bukit pada 24 Juni 2025-24 Juni 2026, berbagai kalangan mengenang sosok wartawan senior dan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumut tersebut sebagai pribadi yang bijaksana, tegas, humoris, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama.
Ketua PWI Sumut H Farianda Putra Sinik mengatakan almarhum merupakan sosok yang sangat dihormati dan dianggap sebagai orang tua bagi keluarga besar PWI Sumut.
"Sebagai Ketua PWI Sumut, saya melihat sosok almarhum sebagai orang tua bagi PWI. Beliau bijaksana, santun, humoris, namun tetap kritis sebagai wartawan," ujar Farianda saat mengenang almarhum.
Menurutnya, selama hidup, Eddy Madya Bukit kerap memberikan nasihat dan bimbingan yang berharga, baik dalam kehidupan organisasi maupun profesi jurnalistik.
"Saya selalu diberi nasihat dan bimbingan semasa almarhum hidup, dan saya menganggapnya sebagai orang tua. Sebagai pengurus PWI, beliau banyak memberikan kontribusi, masukan, dan wejangan, walaupun sering disampaikan dengan gaya humoris," katanya.
Farianda menegaskan bahwa kepergian almarhum merupakan kehilangan besar bagi insan pers, khususnya keluarga besar PWI Sumut. "PWI merasakan kehilangan sosok almarhum. Kami berdoa semoga Tuhan memberikan tempat yang terbaik baginya," ucapnya.
Hal senada disampaikan Dewan Kehormatan PWI Pusat, Drs Muhammad Syahrir MIKom. Ia mengenang Eddy Madya Bukit sebagai pribadi yang supel dan mudah bergaul dengan siapa saja.
"Almarhum orangnya supel, mudah bergaul, dan komunikatif dengan siapapun. Beliau cukup dikenal di kalangan narasumber, terutama di dunia pendidikan yang menjadi wilayah penugasannya semasa menjadi wartawan," ungkap Syahrir.
Sebagai pengurus PWI Sumut, lanjutnya, almarhum juga aktif menjalankan tugas organisasi serta terus memberikan kontribusi dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia anggota PWI.
"Beliau tetap berkontribusi memberikan masukan dalam rangka peningkatan kualitas SDM anggota," tambahnya.
Sementara itu, Ketua PETIR, Amru menilai almarhum sebagai sosok yang baik, humoris, terbuka, dan tegas dalam menyampaikan pendapat.
"Kalau almarhum orang yang baik, humoris, dan tegas dalam bersikap. Orangnya terbuka, tidak main belakang. Jika ada ganjalan, beliau suka menyampaikan langsung ketika wawancara dengan narasumber maupun dalam pergaulannya sesama wartawan," ujarnya.
Menurut Amru, karakter jujur dan apa adanya menjadi salah satu ciri khas yang membuat almarhum dihormati oleh rekan-rekan seprofesinya. "Semoga Tuhan memberkatinya," katanya.
Kesan mendalam juga datang dari Pendeta John Terkelin Ginting yang mengenal almarhum sebagai jemaat yang aktif dan disiplin dalam kehidupan bergereja.
"Semasa sehat beliau adalah sosok jemaat yang rajin dan disiplin. Ketika berbicara, Bapak Eddy Madya selalu mau mengatakan yang benar," ujar Pdt John.
Ia menambahkan, almarhum merupakan pribadi yang mampu bergaul dengan semua kalangan, termasuk generasi muda yang banyak menjadikannya sebagai sahabat.
"Beliau suka membantu bahkan berani berjuang tanpa rasa takut walau untuk kepentingan orang lain," katanya.
Pada momen satu tahun kepergiannya, Pdt John juga menyampaikan doa dan harapan bagi keluarga yang ditinggalkan. "Semoga seluruh keluarga, istri, anak, menantu, dan cucu tetap sehat. Walau beliau sudah tiada, kenangan indah bersamanya tidak pernah sirna," tuturnya.
Setahun setelah kepergiannya, sosok Naras Em Drs Eddy Madya Bukit tetap dikenang sebagai wartawan senior yang menjunjung tinggi kebenaran, aktif dalam organisasi, dekat dengan berbagai kalangan, serta selalu menghadirkan keteladanan melalui sikap dan pengabdiannya kepada profesi, gereja, dan masyarakat. (P3)