Pati (buseronline.com) - Gerakan literasi digital di Jawa Tengah terus diperkuat seiring meningkatnya tantangan penyebaran informasi palsu di era digital.
Dilansir dari laman
Jatengprov, sebanyak 2.681 perpustakaan di provinsi tersebut kini telah terakreditasi dan memenuhi Standar Nasional Perpustakaan (SNP) dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Bunda Literasi Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin mengatakan keberadaan perpustakaan harus mampu menjadi penggerak literasi digital masyarakat sekaligus sarana edukasi untuk menangkal hoaks.
Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Penguatan Gerakan Literasi Digital Perpustakaan: Digital Cerdas-Gemar Membaca di Pendopo Kabupaten Pati, Senin.
"Hari ini kita melakukan gerakan literasi digital di Jawa Tengah. Ini perlu kita koordinasikan ke semua stakeholder yang ada," kata Nawal.
Menurut dia, penguatan
literasi digital harus dilakukan secara kolaboratif sesuai arahan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. Selain Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, keterlibatan Dinas Pendidikan, Dispermades, hingga bunda
literasi di 35 kabupaten/kota dinilai penting agar gerakan tersebut menjangkau masyarakat hingga tingkat desa.
Nawal menegaskan, kemampuan literasi digital sangat dibutuhkan masyarakat agar mampu berpikir kritis dan memilah informasi yang benar di tengah derasnya arus informasi di media sosial.
"Kita perlu mendampingi masyarakat untuk mengembangkan kecerdasan melalui
literasi digital, agar mampu berpikir kritis dan memahami mana informasi yang kredibel dan mana yang hoaks," ujarnya.
Berdasarkan data Perpusnas RI tahun 2025, dari total 2.681 perpustakaan terakreditasi di Jawa Tengah, sebanyak 788 merupakan perpustakaan umum. Jumlah itu terdiri atas 752 perpustakaan desa/kelurahan, 35 perpustakaan kabupaten/kota, dan satu perpustakaan provinsi.
Selain itu, terdapat 70 perpustakaan perguruan tinggi terakreditasi, 1.799 perpustakaan sekolah, serta 24 perpustakaan khusus yang tersebar di berbagai wilayah di Jawa Tengah.
Meski jumlah perpustakaan terus meningkat, Nawal mengakui masih ada tantangan dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Jawa Tengah yang pada 2025 berada di angka 38,86.
Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Jawa Tengah juga tercatat 57,11 dan masih perlu ditingkatkan. Karena itu, pihaknya terus mendorong penguatan perpustakaan desa sebagai garda terdepan dalam membangun budaya membaca di masyarakat.
"Perpustakaan desa ini menjadi inti bagaimana sampai ke akar rumput, mampu bergerak, mengembangkan gerakan gemar membaca, sekaligus meningkatkan angka kunjungan masyarakat ke perpustakaan," katanya.
Ia juga mengapresiasi berbagai inovasi
literasi di daerah, seperti Kampung Literasi dan program Satu Minggu Satu Buku yang digagas Bunda Literasi Kabupaten Batang.
Dalam kesempatan tersebut, Nawal turut mengunjungi KB/TK Pertiwi untuk berinteraksi dengan siswa serta melihat kerajinan lokal di Dekranasda Pati. (R)