Bogor (buseronline.com) - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendukung penyusunan kajian akademik terhadap Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih Sang Hyang Pake guna mengubah cara pandang masyarakat dari nuansa mistis menjadi pemahaman sejarah yang lebih ilmiah dan komprehensif.
Dilansir dari laman Jabarprov, hal tersebut disampaikan
Dedi Mulyadi saat menghadiri Diskusi Kecagarbudayaan bertajuk "Prasasti Batu Tulis dan Makuta Binokasih Sanghyang Pake" di Museum Pajajaran Bogor, Kamis.
"Jadi Batutulis nanti harus ada buku akademiknya, memberikan kajian secara komprehensif, dimulai dari tanggal pembuatan, bahan pembuatan, siapa yang membuat, apa arti tulisannya dan nanti kemudian Mahkota Binokasih Sanghyang Pake juga sama," ujar KDM, sapaan akrab Dedi Mulyadi.
Menurutnya, Bogor merupakan pusat Kerajaan Pakuan Pajajaran yang dibuktikan melalui keberadaan Prasasti Batutulis. Karena itu, sejarah Sunda perlu dijelaskan secara menyeluruh kepada masyarakat melalui kajian ilmiah.
KDM menilai naskah akademik tersebut nantinya dapat menjadi dasar dalam penyusunan tata ruang, tata bangunan, tata kelola pendidikan, hingga tata kelola kesehatan di Jawa Barat agar memiliki keterkaitan antara sejarah masa lalu dan pembangunan masa depan.
Ia juga menegaskan, Prasasti Batutulis bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi menyimpan fakta penting mengenai kejayaan Kerajaan Sunda di bawah kepemimpinan Prabu Siliwangi.
Dalam diskusi tersebut, ahli epigrafi Titi Surti Nastiti menjelaskan bahwa prasasti dibuat atas perintah Raja Surawisesa untuk mengenang jasa Prabu Siliwangi yang dianggap berhasil menata Kota Pakuan Pajajaran sebagai ibu kota Kerajaan Sunda.
Namun, seiring perjalanan waktu, peninggalan Kerajaan Sunda semakin sedikit ditemukan. Salah satu artefak penting yang masih tersisa adalah Mahkota Binokasih yang kini disimpan turun-temurun di Keraton Sumedang Larang.
Berdasarkan naskah kuno Carita Parahyangan, mahkota tersebut dibuat di Kerajaan Galuh sebagai simbol kekuasaan dan legitimasi raja-raja Sunda. Setelah Kerajaan Sunda runtuh, mahkota diserahkan kepada penguasa Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun.
Sementara itu, ahli arkeometalurgi BRIN Harry Octavianus Sofian menyebut Mahkota Binokasih memiliki kaitan erat dengan kosmologi masyarakat Sunda atau konsep Tritangtu, yakni hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Menurut Harry, desain mahkota mewakili tiga unsur kepemimpinan Sunda, yakni Rama sebagai pemimpin spiritual, Ratu atau Prabu sebagai pemimpin pemerintahan, serta Resi sebagai kaum intelektual dan penasihat.
Ia menjelaskan, bagian atas mahkota berbentuk stupa dengan ornamen bunga teratai yang melambangkan kebijaksanaan. Bagian tengah dihiasi ornamen Garuda Mungkur sebagai simbol keberanian dan perlindungan terhadap rakyat, sedangkan bagian bawah berkaitan dengan nilai ajaran Kasundaan Bunisora Suradipati.
Mahkota Binokasih sendiri selama ini disimpan secara ketat oleh Keraton Sumedang Larang. Namun dalam rangkaian Milangkala Tatar Sunda, mahkota tersebut dibawa ke sejumlah daerah di Jawa Barat sebagai bagian dari napak tilas sejarah Pajajaran dan upaya mengenalkan kembali sejarah Kerajaan Sunda kepada masyarakat luas. (R)