Banjarnegara (buseronline.com) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat upaya perlindungan terhadap santri di lingkungan pondok pesantren.
Dilansir dari laman Jatengprov, salah satu langkah yang didorong adalah pembentukan satuan tugas (Satgas) anti-bullying dan antikekerasan terhadap perempuan serta anak di seluruh
pesantren di Jawa Tengah.
Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, saat menghadiri Halaqah Interaktif Pengasuh Pesantren Putri Jawa Tengah bertema "Dari Pesantren untuk Pesantren: Membangun Sistem Perlindungan Santri Berbasis Nilai Pesantren di Jawa Tengah" di Pendopo Kabupaten Banjarnegara, Minggu.
Menurut Gus Yasin, perlindungan santri menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan dilakukan melalui sinergi bersama Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama.
"Intinya adalah edukasi ke pesantren-pesantren tentang pentingnya perlindungan santri, kemudian pembentukan satgas anti-bullying dan antikekerasan terhadap perempuan dan anak," ujar Gus Yasin.
Ia menegaskan, perlindungan santri tidak cukup hanya melalui penanganan kasus, tetapi harus dibangun melalui sistem yang terintegrasi, mulai dari layanan kesehatan, pendidikan, hingga pendampingan psikologis.
Sebagai bentuk dukungan, Pemprov Jateng mengintegrasikan program Dokter Spesialis Keliling (Speling) dengan program anjangsana pesantren yang dijalankan RMI NU Jawa Tengah.
Melalui program tersebut, layanan kesehatan akan masuk langsung ke lingkungan
pesantren, termasuk pendampingan psikolog dan psikiater.
"Kasus kekerasan sering kali tidak terungkap karena korban takut bicara. Karena itu, kami sedang merumuskan kanal aduan khusus yang bisa diakses secara profesional, termasuk lewat layanan telemedis," katanya.
Menurutnya,
pesantren harus menjadi ruang aman yang tidak hanya mendidik secara keilmuan, tetapi juga mampu memberikan perlindungan emosional dan psikologis bagi para santri.
Selain perlindungan santri, Pemprov Jateng juga memperkuat pemberdayaan pesantren melalui program beasiswa pendidikan. Tercatat lebih dari 600 pendaftar dari kalangan kiai, ustaz, ustazah, hingga santri mengikuti program beasiswa dalam dan luar negeri.