Revitalisasi SLBN Pahlawan Indramayu Tingkatkan Kehadiran dan Semangat Belajar Siswa

Heri - Sabtu, 25 April 2026 18:00 WIB
Program Revitalisasi Satuan Pendidikan terus menunjukkan dampak nyata di berbagai daerah, salah satunya di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Indramayu (buseronline.com) - Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang dijalankan pemerintah terus menunjukkan hasil positif.

Dilansir dari laman Kemendikdasmen, di Kabupaten Indramayu, revitalisasi yang dilakukan di SLBN Pahlawan membawa perubahan signifikan, baik dari sisi infrastruktur maupun semangat belajar peserta didik.

Perbaikan yang dilakukan mencakup rehabilitasi 12 ruang kelas dan satu unit toilet. Selain itu, pengadaan perabot seperti meja dan kursi murid, meja dan kursi guru, serta lemari penyimpanan turut melengkapi fasilitas di setiap kelas.

Ketua Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) 2025, Yulius, mengungkapkan bahwa kondisi sekolah sebelum revitalisasi cukup memprihatinkan.

Bangunan lama yang sebagian berdiri sejak 1989 mengalami kerusakan serius, bahkan sempat terjadi insiden robohnya bagian gedung saat jam istirahat.

"Mulai dari tembok yang keropos, bau ruangan tidak nyaman, hingga debu yang bertebaran karena beton sudah lapuk. Itu sangat mengganggu proses belajar," ujarnya.

Kini, kondisi sekolah berubah drastis. Bangunan tidak hanya diperbaiki, tetapi juga disesuaikan dengan kebutuhan siswa, termasuk peninggian atap untuk mengurangi panas, penguatan struktur, serta peningkatan aksesibilitas bagi pengguna kursi roda.

Area belakang sekolah juga ditinggikan untuk mengantisipasi banjir. "Sekarang sekolah ini sudah sangat berubah. Lebih nyaman, lebih aman, dan lebih sesuai untuk anak-anak," tambah Yulius.

Kepala SLBN Pahlawan Indramayu, Wawan Darsa menyebutkan bahwa proses revitalisasi juga berdampak pada perekonomian masyarakat sekitar. Pengerjaan proyek melibatkan tenaga kerja lokal sebagai prioritas, dengan total 28 tukang, sebagian didatangkan dari Cirebon untuk memenuhi kebutuhan tenaga.

Proses pembangunan berlangsung selama sekitar 10 minggu sejak pertengahan Agustus 2025. Menurut Wawan, pendekatan ini sejalan dengan tujuan program yang tidak hanya membangun fasilitas pendidikan, tetapi juga memberdayakan masyarakat sekitar.

Perubahan paling terasa terlihat pada kehadiran siswa. Jika sebelumnya pihak sekolah harus aktif melakukan kunjungan ke rumah murid, kini hampir seluruh siswa hadir secara rutin. "Sekarang hampir semua murid hadir ke sekolah. Hanya yang jaraknya jauh saja yang sesekali kami kunjungi," katanya.

Selain itu, perilaku siswa juga mengalami perubahan positif. Lingkungan sekolah yang sebelumnya kurang terawat kini menjadi lebih bersih, dengan siswa menunjukkan kepedulian dan rasa memiliki terhadap fasilitas yang ada.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin menegaskan bahwa program revitalisasi merupakan langkah strategis untuk menghadirkan pendidikan yang layak, inklusif, dan bermutu. "Ketika anak merasa nyaman, mereka akan lebih termotivasi untuk hadir dan belajar," ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan revitalisasi tidak hanya dilihat dari pembangunan fisik, tetapi juga dari meningkatnya partisipasi dan kualitas interaksi belajar siswa.

"Lingkungan belajar yang lebih baik mendorong kehadiran siswa, interaksi yang lebih positif, serta tumbuhnya rasa memiliki terhadap sekolah. Ini menunjukkan revitalisasi telah mencapai tujuan besarnya," tutupnya. (R)

Editor
: Administrator

Tag:

Berita Terkait