Jakarta (buseronline.com) - Sebanyak 1.636 penulis dari 21 provinsi di Indonesia berhasil memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) melalui penulisan cerpen antikorupsi terbanyak.
Dilansir dari laman
KPK, capaian ini menjadi bagian dari strategi Komisi Pemberantasan Korupsi (
KPK) dalam memperluas gerakan antikorupsi berbasis literasi. Rekor tersebut diumumkan dalam acara peluncuran buku kumpulan cerpen antikorupsi di Gedung Pusat Edukasi Antikorupsi
KPK, Jakarta, Kamis.
KPK menilai capaian ini bukan sekadar simbol prestasi, tetapi mencerminkan pergeseran pendekatan pemberantasan korupsi dari penindakan menuju penguatan budaya integritas melalui partisipasi publik.
Wakil Ketua
KPK Ibnu Basuki Widodo mengatakan program ini dirancang secara masif dengan melibatkan Penyuluh Antikorupsi (PAKSI) dan Ahli Pembangun Integritas (API) sebagai penggerak utama.
"Program ini menjadi langkah strategis dalam memperluas edukasi antikorupsi berbasis literasi, khususnya melalui cerpen yang lebih mudah dipahami masyarakat," ujar Ibnu.
Ia menjelaskan, program diawali dengan pelatihan penulisan cerpen yang menanamkan perspektif integritas, kemudian dilanjutkan dengan proses kreatif hingga pemecahan rekor. Pendekatan ini dinilai mampu menyampaikan pesan antikorupsi secara lebih humanis dan membumi.
Deputi Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Wawan Wardiana, menambahkan bahwa tingginya jumlah peserta menunjukkan antusiasme masyarakat dalam mengarusutamakan nilai integritas.
"Partisipasi 1.636 penulis dari 21 provinsi menjadi bukti kuat bahwa gerakan ini mendapat sambutan luas dari publik," katanya.
Rangkaian kegiatan dimulai dari tahap publikasi pada 8–28 Februari 2026, dilanjutkan dengan pelatihan menulis daring, hingga pengumpulan naskah pada 9 Maret-14 April 2026. Program mencapai puncaknya dengan peluncuran buku pada 23 April 2026.
Sementara itu, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Adin Bondar, menilai pendekatan literasi memiliki peran strategis dalam membangun karakter integritas masyarakat.
"Literasi mampu menumbuhkan kesadaran kritis sekaligus membentuk kebijaksanaan individu dalam bersikap dan berkomunikasi," ujarnya.
Perwakilan komunitas Pena Integritas, Ratu Syafitri Muhayati, menyebut program ini dirancang sebagai gerakan berkelanjutan. Menurutnya, karya-karya yang dihasilkan menjadi refleksi nilai kejujuran sekaligus bentuk perlawanan terhadap korupsi.
Melalui capaian ini, KPK menegaskan komitmennya untuk terus memperluas kolaborasi lintas sektor agar gerakan literasi antikorupsi berkembang menjadi gerakan sosial yang berkelanjutan menuju Indonesia yang lebih bersih dan berintegritas. (R)