Nawal Arafah Yasin Ajak Santri Jadi Penggerak Literasi Pesantren

Administrator - Rabu, 08 April 2026 17:00 WIB
Orientasi Santri Ma’had Al-Jami’ah UIN Walisongo di Auditorium Kampus 3, Semarang, Selasa (7/4/2026).

Semarang (buseronline.com) - Bunda Literasi Provinsi Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin mengajak para santri untuk menjadi penggerak literasi guna menghidupkan kembali tradisi keilmuan di lingkungan pesantren.

Dilansir dari laman Jatengprov, ajakan tersebut disampaikan saat menjadi narasumber dalam kegiatan Orientasi Santri Ma'had Al-Jami'ah UIN Walisongo di Auditorium Kampus 3, Semarang, Selasa.

Dalam pemaparannya, Nawal menegaskan bahwa tradisi literasi, khususnya menulis, sejatinya telah lama mengakar di dunia pesantren. Hal ini tercermin dari banyaknya ulama yang menghasilkan karya kitab kuning, seperti Syekh Abdur Rouf As-Singkili dengan 21 kitab, serta KH Maimoen Zubair yang menulis 12 kitab.

Namun, ia menilai tradisi tersebut kini mulai mengalami penurunan. Oleh karena itu, para santri didorong untuk kembali menghidupkan semangat menulis dan berkarya sebagaimana para ulama terdahulu. "Maka mudah-mudahan adik-adik di sini insyaallah nanti akan menjadi mualif-mualif, akan menjadi penulis-penulis," ujar Nawal.

Ia menjelaskan, pesantren dan literasi merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Proses pembelajaran di pesantren pada dasarnya mencakup praktik literasi secara utuh, mulai dari membaca, memahami, mengajarkan, mendiskusikan, hingga menulis, menerjemahkan, mensyarah, dan mempublikasikan kitab kuning.

Meski demikian, penguatan budaya literasi di pesantren masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya tingginya harga kitab, keterbatasan fasilitas perpustakaan, belum optimalnya pemanfaatan teknologi digital, serta menurunnya tradisi menulis dan penerjemahan.

Sebagai langkah penguatan, Nawal mendorong pengembangan perpustakaan pesantren, digitalisasi kitab kuning, pembudayaan tradisi menulis, serta penguatan forum diskusi kitab. Ia juga berharap adanya dukungan pemerintah melalui hibah kitab dan penyelenggaraan pameran kitab.

Kepada mahasiswa UIN Walisongo, ia menegaskan bahwa tradisi kepenulisan di pesantren tetap relevan diterapkan di lingkungan perguruan tinggi, baik melalui penulisan jurnal maupun buku.

Dalam kesempatan tersebut, Nawal juga mengapresiasi program Ma'had Al-Jami'ah yang dinilai mampu membentuk sarjana yang tidak hanya intelektual, tetapi juga berkarakter ulama, melalui pembelajaran bahasa, kajian kitab kuning, serta pendidikan karakter.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Ahmad Luthfi dan Taj Yasin terus mendorong pengembangan pendidikan pesantren melalui program Pesantren Obah.

Pada kesempatan yang sama, Nawal juga membagikan bukunya berjudul "Pesantren Anti Bullying dan Kekerasan Seksual" kepada mahasiswa. Ia berharap pesantren dapat menjadi lingkungan belajar yang aman dan bebas dari perundungan serta segala bentuk kekerasan. (R)

Editor
: GY Simanjuntak MSi

Tag:

Berita Terkait

Pendidikan

Harkitnas Jadi Momentum Bangkitkan Solidaritas dan Literasi Digital

Pendidikan

Literasi Digital di Jateng Diperkuat, Perpustakaan Didorong Jadi Benteng Anti Hoaks

Pendidikan

USU Siapkan SDM Masa Depan Bangsa

Pendidikan

Program “Istana untuk Anak Sekolah” Beri Pengalaman Berkesan bagi Ratusan Pelajar dan Mahasiswa

Pendidikan

Taput Jadi Contoh Pembentukan Pokja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman di Sumut

Pendidikan

Kepri Perkuat Kualitas Pendidikan Lewat Revitalisasi Sekolah dan Digitalisasi Pembelajaran