Banda Aceh (buseronline.com) - Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mempercepat pemulihan pendidikan di Aceh dengan merealisasikan program Revitalisasi Satuan Pendidikan bagi sekolah-sekolah terdampak bencana.
Sebanyak 114 sekolah di Aceh resmi menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2026. Penandatanganan dilakukan oleh perwakilan sekolah pada Kamis di Banda Aceh, serta disaksikan langsung Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi PKPLK, Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus, dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Aceh.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi PKPLK, Tatang Muttaqin, mengatakan penandatanganan PKS menjadi langkah konkret pemerintah dalam mempercepat rekonstruksi dan rehabilitasi pendidikan di wilayah terdampak bencana.
“Apa yang telah ditandatangani hari ini adalah dokumen awal kebahagiaan bagi orang-orang sekitar kita, para siswa, orang tua, dan seluruh warga sekolah untuk mengembalikan kondisi sekolah yang insyaallah lebih nyaman dan tentunya aman bagi seluruh warga sekolah,” ujar Tatang.
Ia menegaskan, dilansir dari laman Kemendikdasmen, pemerintah berkomitmen memulihkan pendidikan secara cepat, menyeluruh, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik, sehingga hak anak untuk mendapatkan pendidikan tetap terpenuhi meski terdampak bencana.
Menurutnya, setelah penandatanganan PKS, dana bantuan akan segera dicairkan agar proses revitalisasi dapat langsung dikerjakan.
“Setelah penandatanganan ini, dana bantuan segera bisa cair sehingga bisa langsung dieksekusi. Kami berharap awal tahun ajaran baru anak-anak sudah bisa belajar dengan nyaman dan aman di sekolah yang baru,” tambahnya.
Dari total 114 sekolah, sebanyak 99 merupakan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), 13 Sekolah Luar Biasa (SLB), serta 2 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Tingkat kerusakan bangunan bervariasi, mulai dari ringan hingga rusak berat akibat bencana alam.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, Dahlawi, menyebut revitalisasi tersebut membawa harapan baru bagi dunia pendidikan di Aceh. Ia mengungkapkan hampir separuh SMK dan SLB di wilayahnya mengalami kerusakan akibat bencana.
“Revitalisasi ini membawa harapan baru bagi pendidikan Aceh. Dengan program ini kami berharap pendidikan segera pulih dan kualitasnya bisa setara dengan daerah lain,” kata Dahlawi.
Harapan serupa disampaikan Kepala SMK Ummul Ayman 2 Kabupaten Pidie Jaya, Faisal. Ia menjelaskan, seluruh ruang kelas dan ruang praktik di sekolahnya rusak sehingga kegiatan belajar mengajar terpaksa dilakukan di kelas darurat.
“Dengan revitalisasi ini kami berharap unit kelas baru bisa cepat terbangun dan siswa dapat belajar kembali dalam kondisi yang lebih nyaman,” ujarnya.
Salah satu siswa, Alfrizi Maulana, mengaku merindukan suasana belajar normal. Selama ini ia dan teman-temannya tidak dapat mengikuti praktik karena fasilitas rusak akibat banjir.
“Semoga unit kelas baru bisa segera dibangun dan kami bisa belajar kembali di ruang kelas yang nyaman dengan meja dan kursi,” katanya.
Sementara itu, Kepala SLBN Pembina Aceh Tamiang, Suprananta, menyebut PKS tersebut menjadi kabar baik bagi 260 murid berkebutuhan khusus di sekolahnya.
“Sekolah kami sudah aktif kembali, tapi masih menggunakan kelas darurat. Dengan PKS ini kami insyaallah bisa membangun kembali sekolah yang rusak parah karena bencana,” ujarnya.
Program Revitalisasi Satuan Pendidikan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat pemulihan sarana pendidikan pascabencana sekaligus memastikan proses belajar mengajar di Aceh dapat kembali berjalan aman, nyaman, dan berkualitas. (R)