Jakarta Barat (buseronline.com) - Direktorat Pencegahan (Ditcegah) Densus 88 Antiteror Polri menggelar kegiatan bertajuk Parenting Ideologi di SMA Negeri 2 Jakarta, Taman Sari, Jakarta Barat, Selasa.
Program ini digelar untuk memperkuat peran orang tua sebagai garda terdepan dalam melindungi pelajar dari ancaman intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET), terutama yang bersumber dari ruang digital.
Kegiatan yang berlangsung di Jalan Gajah Mada ini diikuti oleh 50 perwakilan Komite Siswa/i. Kehadiran tim Densus 88 disambut langsung oleh Kepala SMAN 2 Jakarta, Setianingrum, beserta jajaran Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, Sarana Prasarana, dan Kurikulum.
Dalam pemaparannya, narasumber dari Ditcegah Densus 88 AT Polri, IPDA Muhammad Audi Aqshal Afandi SPd, menekankan bahwa infiltrasi ideologi ekstrem saat ini tidak hanya melalui pertemuan fisik, melainkan telah merambah ke media sosial dan game online. Oleh karena itu, keluarga harus menjadi filter utama bagi anak.
“Orang tua perlu memahami ciri-ciri awal anak yang mulai terpapar paham ekstrem, seperti perubahan sikap, ketertarikan pada konten kekerasan, hingga pola interaksi yang tertutup di dunia maya,” ujar IPDA Muhammad Audi Aqshal Afandi.
Melalui edukasi ini, para orang tua dibekali kemampuan teknis dan psikologis untuk mengenali tanda-tanda radikalisasi sejak dini. Selain meningkatkan kewaspadaan digital, orang tua didorong untuk menanamkan nilai-nilai toleransi dan ideologi kebangsaan sebagai fondasi karakter anak di rumah.
Setianingrum menyampaikan apresiasi atas inisiatif ini. Ia menilai sinergi antara sekolah dan orang tua merupakan kunci utama dalam melindungi peserta didik dari pengaruh konten bermuatan kekerasan yang dapat merusak masa depan mereka.
Dilansir dari laman Humas Polri, Kegiatan Parenting Ideologi diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa pencegahan radikalisme bukan hanya tugas aparat keamanan atau institusi pendidikan, melainkan dimulai dari lingkungan keluarga sebagai ruang pendidikan pertama dan utama bagi anak.
“Keberhasilan menangkal paham IRET sangat bergantung pada peran aktif orang tua dalam membimbing anak di rumah, selaras dengan upaya sekolah dan aparat keamanan,” tambah IPDA Muhammad Audi Aqshal Afandi.
Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi Densus 88 dalam mengantisipasi penyebaran paham ekstrem sejak dini, sekaligus mendorong budaya toleransi dan kedisiplinan berlandaskan nilai-nilai Pancasila di kalangan pelajar. (R)