Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/u522261782/domains/buseronline.com/public_html/amp/fungsi.php on line 192

Sains Ungkap Peran Interaksi Keluarga dalam Membangun Kecerdasan Anak

GY Simanjuntak MSi - Senin, 05 Januari 2026 09:12 WIB
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menyampaikan paparan pada Seminar Natal Nasional 2025 di Sekolah Tinggi Filsafat Theologi, Jakarta, Sabtu (3/1/2026). (Dok/Diktisaintek)

Jakarta (buseronline.com) - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menegaskan bahwa interaksi langsung dalam keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun kecerdasan, karakter, serta kapasitas belajar anak.

Penegasan tersebut disampaikan dalam paparannya pada Seminar Natal Nasional 2025 yang digelar di Sekolah Tinggi Filsafat Theologi, Sabtu.

Dalam kesempatan tersebut, dilansir dari laman Diktisaintek, Wamen Stella menyoroti tantangan besar yang dihadapi keluarga, khususnya di wilayah metropolitan, yakni semakin dominannya penggunaan gawai yang menggerus waktu kebersamaan dan interaksi berkualitas antaranggota keluarga, terutama saat makan bersama.

Mengutip data statistik terbaru, Wamendiktisaintek mengungkapkan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan waktu sekitar tiga jam delapan menit per hari untuk media sosial.

Angka tersebut meningkat hingga tujuh jam jika digabungkan dengan penggunaan internet secara umum. Bahkan, pada generasi Z, durasi penggunaan media sosial mencapai sekitar empat jam per hari.

“Banyak waktu kita, bahkan saat makan malam, dihabiskan masing-masing dengan layar. Padahal, makan malam adalah momen krusial, karena pada saat itu tidak ada alasan anak sedang sekolah atau orang tua bekerja di luar rumah,” ujar Stella Christie.

Ia menekankan bahwa momen makan bersama seharusnya menjadi ruang utama terjadinya komunikasi, pertukaran cerita, serta penanaman nilai-nilai keluarga yang tidak tergantikan oleh teknologi digital.

Lebih lanjut, Wamen Stella memaparkan bukti ilmiah dari eksperimen Profesor DeLoach terkait efektivitas pembelajaran pada anak usia dini. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa balita yang mempelajari kosa kata baru melalui interaksi langsung dengan orang tua memiliki kemampuan bahasa yang jauh lebih baik dibandingkan anak yang belajar melalui video edukasi, meskipun video tersebut ditonton bersama orang tua.

“Ada fenomena yang dikenal sebagai 10 ribu word gap pada usia lima tahun. Anak yang jarang berbincang dengan orang tuanya memiliki kosa kata yang lebih rendah, dan hal ini secara langsung memprediksi kemampuan belajar mereka di sekolah pada masa depan,” jelasnya.

Menurut Stella, kemampuan berbahasa bukan sekadar soal jumlah kata yang dikuasai, melainkan juga berkaitan erat dengan kemampuan berpikir, memahami konsep, serta membangun relasi sosial yang sehat.

Selain aspek bahasa, Wamen Stella juga menekankan pentingnya menumbuhkan rasa ingin tahu atau curiosity pada anak melalui proses tanya jawab yang berkualitas.

Ia mendorong para orang tua untuk tidak sekadar memberikan jawaban singkat, tetapi menjelaskan dengan cara yang membangun struktur berpikir dan membuka ruang diskusi.

“Bertanya dan menjawab adalah bentuk active learning. Jika anak hanya dibiarkan dengan gawai, mereka kehilangan kesempatan untuk belajar secara aktif, karena gawai tidak mampu memberikan umpan balik langsung terhadap rasa penasaran mereka,” tambahnya.

Menurutnya, interaksi dua arah antara orang tua dan anak menjadi kunci dalam membentuk pola pikir kritis, empati, serta kemampuan memecahkan masalah sejak usia dini.

Menutup paparannya, Wamen Stella mengingatkan bahwa esensi keluarga terletak pada penanaman nilai-nilai kemanusiaan dan penciptaan kenangan yang membahagiakan.

Ia mengingatkan bahwa apabila komunikasi di meja makan tergantikan oleh layar gawai, maka nilai-nilai yang diserap anak bukan lagi berasal dari orang tua, melainkan dari algoritma kecerdasan buatan dan arus media sosial.

“Keluarga adalah jangkar kemanusiaan. Kita adalah makhluk sosial yang dianugerahi kemampuan untuk bertukar pikiran. Jangan sampai kita menghilangkan anugerah tersebut. Mari kita mulai dari hal sederhana: makan bersama dan berbicara tanpa gawai,” tegas Stella Christie.

Pemaparan tersebut menjadi pengingat penting bahwa di tengah kemajuan teknologi dan digitalisasi, peran keluarga sebagai ruang pendidikan pertama dan utama tetap tidak tergantikan dalam membangun generasi yang cerdas, berkarakter, dan berkepribadian utuh. (R)

Editor
: GY Simanjuntak MSi
Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Pendidikan

PSEL Medan Raya Ditargetkan Groundbreaking 2026, Olah hingga 1.700 Ton Sampah per Hari

Pendidikan

Kemendikdasmen Gelar Komitmen Bersama SPMB Ramah 2026/2027, Tekankan Akses Pendidikan Tanpa Diskriminasi

Pendidikan

Pemprov Jateng Pastikan Kesehatan Hewan Kurban Idul Adha 2026, Populasi Ternak Diproyeksikan Surplus

Pendidikan

Pemprov Sumut Perluas Kerja Sama dengan Jepang untuk Penguatan SDM dan Tenaga Kerja

Pendidikan

FAO Waspadai Risiko Krisis Pangan Global, Indonesia Tunjukkan Ketahanan dan Surplus Produksi

Pendidikan

KPK Soroti Risiko Korupsi SPMB 2026/2027, Tekankan Penguatan Integritas Pendidikan