Jakarta (buseronline.com) - Indonesia dan Kuwait sepakat memperkuat kerja sama di bidang sains dan teknologi melalui optimalisasi kolaborasi riset, pendidikan tinggi, serta penyediaan tenaga kerja terampil.
Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto dengan Duta Besar Kuwait untuk Indonesia, Khalid Jassim Al-Yassin, di Jakarta, Selasa.
Dalam pertemuan tersebut, Mendiktisaintek menekankan pentingnya implementasi konkret dari Nota Kesepahaman (MoU) kerja sama pendidikan tinggi yang telah disepakati kedua negara.
Menurutnya, kolaborasi tidak hanya berhenti pada kesepakatan administratif, tetapi harus diwujudkan dalam program nyata yang memberi dampak langsung bagi pembangunan Indonesia dan Kuwait.
“Kami ingin memastikan kolaborasi riset ini memberikan dampak langsung bagi pembangunan kedua negara. Kami juga siap mengirimkan mahasiswa pascasarjana Indonesia untuk menempuh studi dan riset di universitas-universitas di Kuwait,” ujar Menteri Brian.
Menteri Brian juga menawarkan sejumlah bidang strategis untuk dikembangkan bersama, antara lain energi dan petrokimia, kesehatan, teknologi lingkungan, serta hilirisasi mineral. Ia menilai kerja sama tersebut sejalan dengan kebutuhan pembangunan berkelanjutan dan penguatan inovasi di kedua negara.
Sementara itu, Duta Besar Kuwait untuk Indonesia, Khalid Jassim Al-Yassin, menyampaikan bahwa peningkatan kerja sama dengan Indonesia merupakan salah satu prioritas utama pemerintah Kuwait.
Ia mengungkapkan bahwa MoU bidang pendidikan tinggi yang ditandatangani pada tahun 2019 sempat tertunda implementasinya akibat pandemi COVID-19.
“Kami sepakat untuk mengaktifkan kembali seluruh poin kerja sama yang telah disepakati sebelumnya sebelum masa berlaku MoU berakhir, sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan oleh kedua negara,” kata Dubes Khalid.
Selain kerja sama antarkampus, Dubes Khalid juga mendorong kolaborasi riset dengan Kuwait Institute for Scientific Research (KISR), lembaga riset pemerintah Kuwait yang berfokus pada isu desalinasi air, energi terbarukan, pertanian lahan kering, serta biodiversitas.
Ia berharap kerja sama ini dapat diperluas hingga penyediaan tenaga kerja terampil dari Indonesia, termasuk profesor, peneliti, dan tenaga medis seperti dokter.
Menanggapi hal tersebut, Mendiktisaintek menyambut positif usulan kerja sama dengan KISR dan mengusulkan pembentukan Nota Kesepahaman khusus antara Kemendiktisaintek dan lembaga riset tersebut.
“Lebih dari 90 persen peneliti dan profesor kami berada di lingkungan universitas. Karena itu, kolaborasi langsung antara Kemendiktisaintek dan KISR akan jauh lebih efektif dalam menggerakkan inovasi dan riset terapan,” tambah Menteri Brian.
Pertemuan tersebut ditutup dengan komitmen kedua belah pihak untuk segera melakukan pertukaran data terkait kebutuhan kompetensi tenaga kerja, serta merumuskan detail teknis pembentukan Joint Working Group sebagai langkah awal implementasi kerja sama strategis Indonesia–Kuwait di bidang sains dan teknologi. (R)