Jakarta (buseronline.com) - Pendidikan tinggi, khususnya pendidikan kedokteran, memegang peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, empati, dan komitmen kemanusiaan.Hal ini disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, dalam Seminar Nasional dan Musyawarah Nasional (Munas) IV Forum Ikatan Alumni Kedokteran Seluruh Indonesia (FIAKSI) 2025, Sabtu.Kegiatan bertema “Sinergitas Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran bersama Institusi Pendidikan dalam Mendukung Asta Cita untuk Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045” ini digelar sebagai ruang diskusi dan refleksi strategi pengembangan pendidikan kedokteran yang profesional sekaligus humanis.Wamen Fauzan menekankan, dokter tidak hanya bertugas mengobati pasien, tetapi juga menjadi agen kesehatan masyarakat dengan peran promotif dan preventif yang signifikan.“Dokter tidak hanya mengobati tapi juga jadi agen kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, peran promotif dan preventif sangat penting,” ujar Wamen Fauzan.Menurut Fauzan, pendidikan kedokteran harus menekankan nilai-nilai humanisme agar dokter tidak hanya cakap secara medis, tetapi juga peka terhadap aspek sosial dan psikologis pasien.“Profesi dokter adalah panggilan hati. Dunia kedokteran tidak hanya bicara tentang ilmu, tetapi juga bicara tentang kemanusiaan. Seorang dokter tidak sekadar memberikan resep medis, tetapi juga solusi sosiologis dan humanis. Sentuhan humanisme inilah yang sesungguhnya dibutuhkan,” jelasnya.Data Profil Kesehatan Indonesia 2024 menunjukkan Indonesia masih menghadapi kekurangan sekitar 100.000 dokter untuk memenuhi rasio ideal kebutuhan nasional. Selain itu, dari 136 Fakultas Kedokteran, hanya 25 yang telah menjalankan 358 program studi spesialis/subspesialis, sementara kebutuhan lulusan dokter spesialis ideal mencapai 32.000 per tahun, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata 3.600 lulusan yang dihasilkan saat ini.Wamen Fauzan menekankan, penguatan humanisme dalam pendidikan dokter sejalan dengan arah kebijakan “Diktisaintek Berdampak”, yang memastikan pendidikan tinggi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ia menekankan perlunya kolaborasi antara institusi pendidikan, alumni, dan pemangku kepentingan untuk menjamin kualitas lulusan dan pemerataan layanan kesehatan.Sejalan dengan arahan Wamen Fauzan, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, juga mendorong transformasi pendidikan tinggi yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat.FIAKSI sebagai wadah alumni fakultas kedokteran nasional dipandang memiliki posisi strategis untuk menjembatani dunia pendidikan dan praktik lapangan. Melalui jejaring alumni, FIAKSI diharapkan menjadi motor penggerak penguatan karakter dokter, pembaruan kurikulum, serta penyebarluasan praktik layanan kesehatan yang humanis.Kemdiktisaintek mengajak seluruh pemangku kepentingan, institusi pendidikan kedokteran, organisasi profesi, alumni, dan mahasiswa, untuk bersinergi membangun pendidikan kedokteran yang lebih humanis, inklusif, dan berdampak. Langkah ini dianggap penting untuk mendukung pencapaian Indonesia Emas 2045 melalui peningkatan kualitas SDM di sektor kesehatan. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi