Surabaya (buseronline.com) - Perguruan tinggi di Indonesia didorong untuk tidak lagi berperan sekadar sebagai penyedia layanan pendidikan, melainkan menjadi pusat transformasi sosial, ekonomi, dan peradaban bangsa.Dorongan ini disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, saat menyampaikan keynote speech dalam Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI) 2025 yang berlangsung di Graha Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Kamis.Indonesia saat ini tengah memacu diri menuju status negara maju pada 2045, namun berbagai tantangan struktural masih nyata. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025 menunjukkan tingkat ketimpangan pengeluaran nasional dengan Gini Ratio 0,375, sementara Jawa Timur berada di angka 0,383. Di bidang pendidikan tinggi, Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi pada 2024 masih bertahan di 32%, jauh di bawah rata-rata global.Dalam pidatonya, Wamen Fauzan menegaskan perlunya lompatan besar di sektor pendidikan tinggi agar mampu memberi kontribusi signifikan terhadap agenda transformasi nasional.“Pengangguran masih banyak, angka partisipasi kasar perguruan tinggi kita rendah, bahkan kompetensi lulusan masih belum sesuai kebutuhan industri. Tidak bisa tidak, kini transformasi adalah sebuah keharusan,” tegasnya.Melalui forum KPPTI 2025, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengonsolidasikan pimpinan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia untuk menyelaraskan strategi institusi dengan arah pembangunan nasional.Forum ini menjadi ruang bersama untuk memetakan kekuatan, kelemahan, serta peluang kolaborasi lintas perguruan tinggi demi mempercepat perubahan fundamental dalam ekosistem pendidikan tinggi.Wamen Fauzan menekankan bahwa perguruan tinggi harus bergerak dari peran lama sebagai lembaga pendukung menuju aktor utama yang menggerakkan perubahan peradaban.“Pendidikan tinggi transformatif bukan sekadar tema, tetapi tuntutan zaman. Kita dituntut menjadi pemicu transformasi dan agen utama perubahan peradaban,” ujarnya.Ia mengingatkan bahwa Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, telah menegaskan pentingnya terobosan konstruktif pada sektor pendidikan dan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) demi memperkuat kemandirian bangsa. Perkembangan industri yang kian dinamis juga menuntut lulusan perguruan tinggi dengan kompetensi yang lebih spesifik dan relevan.“Kalau kita ingin melakukan transformasi, kita harus melihat ulang kebijakan birokrasi, kurikulum, dan kompetensi lulusan kita. Ini memerlukan keberanian untuk berubah,” tambahnya.Menurut Wamen Fauzan, dinamika sosial, ekonomi, dan pendidikan bergerak dalam pola yang berulang. Karena itu, perguruan tinggi harus mampu mengelola siklus transformasi secara konsisten agar perubahan tidak berhenti di tengah jalan.Ia menegaskan bahwa generasi muda memilih perguruan tinggi bukan hanya karena fasilitas, tetapi karena adanya harapan akan kehidupan yang lebih baik—sebuah pesan fundamental yang harus menjadi pusat orientasi kebijakan setiap institusi pendidikan tinggi.KPPTI 2025 menjadi momentum penting bagi perguruan tinggi untuk memperkuat komitmen kolektif, mengakselerasi inovasi, dan menjadi motor penggerak dalam membangun peradaban Indonesia yang kompetitif dan berdaya saing global. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi