Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/u522261782/domains/buseronline.com/public_html/amp/fungsi.php on line 192

Empat Pakar Tekankan Pentingnya Regenerasi Kepemimpinan untuk Jaga Visi Pendidikan Tinggi

GY Simanjuntak MSi - Sabtu, 22 November 2025 11:23 WIB
Para pemateri dan perwakilan peserta KPPTI 2025 berpose seusai sesi pleno bertema “Regenerasi Kepemimpinan Akademik yang Visioner” di Universitas Negeri Surabaya, Rabu (19/11/2025). (Dok/KPPTI 2025)
Surabaya (buseronline.com) - Urgensi regenerasi kepemimpinan akademik kembali mengemuka dalam sesi pleno Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI) 2025 yang digelar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Rabu.Para pakar dari berbagai perguruan tinggi menegaskan bahwa keberlanjutan visi dan kualitas pendidikan tinggi sangat ditentukan oleh kemampuan kampus mempersiapkan pemimpin akademik yang visioner, adaptif, dan berkarakter kuat.Empat pakar yang hadir berasal dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Mulawarman (Unmul), Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), dan Universitas Mega Buana Palopo (UMB Palopo).Masing-masing memaparkan tantangan serta strategi konkret yang perlu ditempuh perguruan tinggi dalam menyiapkan generasi pemimpin kampus berikutnya.Kepala Unit Penjaminan Mutu (UPM) Unpad, Budi Harsanto, menegaskan bahwa keterampilan pemimpin akademik merupakan fondasi kemajuan pendidikan tinggi. Menurutnya, kualitas kepemimpinan sangat memengaruhi produktivitas riset, tata kelola karier dosen, serta performa institusi secara keseluruhan.“Kemampuan bersosial, kapabilitas personal, dan pengetahuan akademik seperti komunikasi, kolaborasi, pengambilan keputusan, dan pemahaman institusi adalah kunci. Dari pengalaman kami, kepemimpinan di Unpad menentukan produktivitas baik dari sisi riset maupun karya dosen peneliti,” jelasnya.Ia menambahkan, kebutuhan regenerasi semakin mendesak akibat gelombang pensiun dosen senior yang dapat menyebabkan hilangnya tacit knowledge. Selain itu, perubahan cepat dunia pendidikan menuntut adaptasi digital, internasionalisasi, inovasi riset, dan keberlanjutan budaya akademik.Unpad, lanjutnya, merespons hal tersebut melalui mentoring talenta akademik, rekrutmen terarah, penguatan kapasitas sivitas, serta tata kelola yang transparan. Upaya ini berdampak pada meningkatnya rekognisi nasional dan global, publikasi, inovasi, dan employability lulusan.Rektor Universitas Mulawarman, Abdunnur, menguraikan empat faktor utama yang membuat regenerasi kepemimpinan memasuki fase kritis. Pertama, fenomena “tsunami pensiun” yang dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan dapat menciptakan jurang pengalaman di level pimpinan kampus.Kedua, disrupsi digital dengan munculnya AI, kompetisi world class university, serta tuntutan link and match industri yang memerlukan pemimpin adaptif dan memiliki jiwa entrepreneur.Ketiga, perubahan paradigma Tridarma 4.0 yang menggeser peran rektor dan dekan dari administrator tradisional menjadi CEO Inovasi. Keempat, momentum bonus demografi yang menuntut lahirnya pemimpin muda untuk kemajuan bangsa.“Regenerasi harus disengaja dan terstruktur. Kita harus melakukan identifikasi talenta, pengembangan terarah, pengujian lapangan, hingga transisi yang terkelola agar perguruan tinggi memiliki leadership pipeline yang siap dan teruji,” tegasnya.Zainal Arief dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) menyoroti tantangan khusus yang dihadapi politeknik dan perguruan tinggi vokasi. Tantangan internal mencakup siklus kepemimpinan yang tidak berkesinambungan, kesenjangan kompetensi antargenerasi, serta kesulitan membangun manajemen talenta yang berkelanjutan.Sementara dari sisi eksternal, perguruan tinggi vokasi harus menghadapi disrupsi teknologi dan AI, kompetisi global, perubahan kebijakan, serta karakter generasi Z dan Alpha yang sangat digital-native.“Pemimpin harus bisa melihat perkembangan ke depan dan tidak bisa bekerja sendiri. Ia harus memiliki tim dan nilai-nilai togetherness, maturity, dan willingness yang dapat ditanamkan kepada sivitas akademika,” jelasnya.Menurutnya, model ideal regenerasi pemimpin mencakup pemetaan dosen potensial (talent identification), akselerasi kompetensi melalui mentoring, coaching, tugas strategis, serta rotasi jabatan, dan dukungan ekosistem yang berpihak pada meritokrasi dan inovasi.Paparan ditutup oleh Rektor Universitas Mega Buana Palopo, Nilawati Uly, yang menekankan bahwa masa depan perguruan tinggi sangat bergantung pada kualitas pemimpinnya. Ia menilai bahwa program, fasilitas, atau kurikulum tidak akan bermakna tanpa manusia yang memimpin dengan karakter kuat.Baginya, pemimpin kampus adalah pembentuk budaya dan pembina karakter. Ada lima nilai yang ia pegang untuk memajukan institusi, yakni niat baik, integritas dan loyalitas, kepedulian kepada mahasiswa, kerja keras dengan ikhlas, kreativitas, serta kerendahan hati dan rasa syukur.“Pemimpin tidak dibentuk oleh teori, tetapi oleh pengalaman nyata. Kepemimpinan bukan untuk memperpanjang jabatan, melainkan memperpanjang manfaat. Sekecil apa pun usaha yang dilakukan akan menjadi mozaik besar bagi pembangunan Indonesia,” ujarnya.Dengan berbagai pandangan tersebut, sesi pleno KPPTI 2025 menegaskan bahwa regenerasi kepemimpinan bukan sekadar kebutuhan administratif, melainkan kunci keberlanjutan pendidikan tinggi Indonesia di tengah perubahan zaman. (R)

Editor
: GY Simanjuntak MSi
Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Pendidikan

Pelaksanaan TKA SMP di Banten Lancar, Wamendikdasmen Apresiasi Sekolah

Pendidikan

1,8 Juta Lebih Siswa Ikuti Hari Pertama TKA SMP, Pelaksanaan Berjalan Lancar

Pendidikan

TKA SMP/MTs Digelar, Siswa SMPLB Tunjukkan Antusiasme Tinggi

Pendidikan

Dedi Mulyadi Dukung Pembangunan Fakultas Kedokteran UIN Bandung, Syaratkan Akses Gratis bagi Warga Miskin

Pendidikan

Kemenkes Prioritaskan Vaksinasi Campak bagi Nakes Usai Perluasan Indikasi untuk Dewasa

Pendidikan

Puluhan Suspek Campak Ditemukan, Pemkab Rembang Tingkatkan Kewaspadaan