Rembang (buseronline.com) - Pemerintah Kabupaten Rembang terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat terhadap risiko bencana melalui kegiatan Sosialisasi dan Simulasi Kebencanaan Satuan Pendidikan Aman Bencana se-Kabupaten Rembang yang digelar di Aula SMA Negeri 3 Rembang, Kamis.Upaya ini difokuskan pada pelajar sebagai agen perubahan dalam membangun budaya sadar bencana sejak dini.Kegiatan tersebut diikuti 250 peserta, terdiri dari guru dan siswa perwakilan 51 SD/MI, 15 SMP/MTs, serta 15 SMA/SMK/MA se-Kabupaten Rembang.Program berlangsung dalam dua sesi, yakni penyampaian materi sosialisasi kebencanaan serta simulasi gempa bumi yang dipandu tim fasilitator Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang.Kepala BPBD Kabupaten Rembang, Sri Jarwati, menjelaskan bahwa wilayah Rembang memiliki tujuh potensi ancaman bencana sebagaimana tertuang dalam Peraturan Bupati Nomor 21 Tahun 2025 tentang Kajian Risiko Bencana. Potensi tersebut meliputi banjir, tanah longsor, kekeringan, cuaca ekstrem, abrasi, kebakaran hutan dan lahan, serta gempa bumi.“Kondisi ini menuntut peningkatan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat, termasuk di lingkungan pendidikan,” ujarnya.Sri Jarwati menambahkan, kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman pelajar mengenai risiko bencana, membekali mereka dengan keterampilan mitigasi dan evakuasi yang benar, serta menumbuhkan kerja sama di antara unsur sekolah ketika menghadapi situasi darurat.“Diharapkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan warga sekolah meningkat, serta memperkuat koordinasi antarsekolah dalam penanggulangan bencana,” jelasnya.Dalam kesempatan yang sama, Bupati Rembang Harno mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan mengingat Kabupaten Rembang memiliki kerentanan bencana baik di wilayah pesisir maupun daratan.“Kabupaten Rembang ini rawan beberapa jenis bencana, mulai dari laut hingga darat. Biasanya pada Januari terjadi gelombang tinggi dan abrasi di pesisir dari barat sampai timur. Saya sudah meninjau beberapa lokasi yang kritis, termasuk Puskesmas Sarang yang sempat terdampak banjir,” ungkapnya.Bupati menjelaskan bahwa saat musim hujan, daerah Rembang rawan banjir akibat curah hujan tinggi dan penyumbatan saluran oleh sampah. Sementara pada musim kemarau, kebakaran karena korsleting listrik kerap terjadi, disusul potensi tanah longsor di daerah perbukitan.Ia berharap sosialisasi dan simulasi ini dapat menjadikan lingkungan pendidikan sebagai pelopor budaya sadar bencana.“Sekolah merupakan tempat strategis untuk menanamkan nilai kesiapsiagaan sejak dini. Dengan membangun kesadaran di kalangan pelajar, kita sedang menyiapkan generasi yang lebih tangguh dalam menghadapi bencana,” tegasnya.Sementara itu di Kabupaten Pati, Wakil Bupati Pati Risma Ardhi Chandra menekankan pentingnya kolaborasi seluruh unsur dalam menghadapi potensi bencana. Dalam apel siaga bencana di halaman Terminal Kayen pada hari yang sama, ia menyatakan bahwa upaya penanggulangan bencana membutuhkan kekompakan semua pihak.“Kuncinya adalah sinergitas seluruh elemen. Kekompakan sangat penting dan dibutuhkan dalam semua fase bencana, baik pra, saat, maupun pascabencana,” ujarnya.Wabup berharap semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama tetap menjadi fondasi masyarakat Pati dalam menghadapi berbagai risiko bencana.Program sosialisasi kebencanaan yang menyasar pelajar di Rembang ini diharapkan dapat memperkuat ketangguhan masyarakat sejak dini, sekaligus mendukung upaya pemerintah daerah dalam meminimalkan dampak bencana di masa mendatang. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi