Padang (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melanjutkan pelaksanaan Future Leaders Camp (FLC) 2025 Regional II Sumatera dengan fokus pada pembentukan pola pikir kritis, pemahaman kebijakan publik, serta penguatan nilai etika dan moralitas dalam kepemimpinan, Jumat.Memasuki hari kedua, rangkaian kegiatan dikemas dalam sesi diskusi tematik bersama tokoh nasional lintas profesi. Para peserta diajak memahami bahwa kepemimpinan bukan sekadar peran struktural, melainkan proses memikul tanggung jawab sosial dan keberpihakan pada kemajuan masyarakat.Sesi pertama menghadirkan Syahganda Nainggolan, Ketua Dewan Direktur GREAT Institute. Ia menekankan pentingnya pemimpin yang memiliki nilai, integritas, dan keberanian memperjuangkan keyakinan.“Jangan membiarkan diri larut pada realitas dan menjadi pragmatis, tetapi jadilah orang yang ideologis. Ideologi adalah nilai yang membuat hidup kita lebih berguna,” ujar Syahganda.Ia menyebut, generasi muda harus tetap mempertahankan idealisme di tengah dinamika sosial politik yang sering kali memicu kompromi nilai.Materi berikutnya disampaikan Indah Adi Putri dengan tema “Politik, Kebijakan Publik, dan Ruang Partisipasi Generasi Muda.”Indah menegaskan bahwa politik bukan hanya kontestasi kekuasaan.“Politik adalah ruang memperjuangkan nilai dan kepentingan publik. Anak muda harus hadir, bersuara, dan berpartisipasi,” ujarnya.Ia menilai, tanpa keterlibatan generasi muda, kebijakan publik akan gagal membaca kebutuhan masa depan bangsa.Sesi selanjutnya dibawakan oleh Syaifullah Muhammad yang menyoroti pentingnya inovasi sebagai kekuatan peradaban. Dalam paparannya, ia menekankan kolaborasi lintas disiplin sebagai fondasi transformasi nasional.“We are not supermen, but we can create a super team,” ujarnya.Menurutnya, kemajuan hanya dapat dicapai melalui ekosistem yang menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, dan nilai kemanusiaan.Hari kedua ditutup oleh Ismail Hasani, Ketua SETARA Institute sekaligus Staf Khusus Menteri Kemdiktisaintek Bidang Hukum, Regulasi, dan Tata Kelola. Ia memaparkan materi “Merawat Rasionalitas Hukum, Meneguhkan Etika Demokrasi: Membangun Tata Kelola Berkeadilan dan Partisipatif.”“Kalau rasionalitas hukum dirawat, demokrasi akan tumbuh, dan keadilan dapat diwujudkan,” tegas Ismail.Ia menambahkan, demokrasi tanpa etika hanya menjadi arena kepentingan, dan etika tanpa keberanian hanya menjadi semboyan kosong.Kegiatan ditutup dengan sesi mini project discussion. Peserta berdiskusi dalam kelompok untuk merancang aksi sosial berbasis kampus sebagai bentuk latihan memimpin melalui solusi konkret.Hari kedua FLC 2025 menegaskan komitmen Kemdiktisaintek bahwa pendidikan tinggi bukan semata ruang akademik, melainkan arena pembentukan karakter, refleksi etis, dan kemampuan adaptif dalam menghadapi dinamika zaman.Melalui pembelajaran lintas bidang dan interaksi dengan para tokoh, mahasiswa peserta FLC semakin memahami bahwa perubahan dimulai dari cara berpikir, keberanian mengambil sikap, dan kesediaan bertindak untuk kemaslahatan bersama. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi