Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Kementerian Luar Negeri (Kemlu) memperkuat diplomasi pendidikan global melalui forum Ambassador’s Talk yang mempertemukan para duta besar dan pimpinan perguruan tinggi dari berbagai negara sahabat, Senin.Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk memperluas jejaring internasional, sekaligus membahas penguatan Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (Indonesian Arts and Culture Scholarship–IACS) yang telah menjadi ikon diplomasi kebudayaan Indonesia sejak 2003.Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie dalam sambutannya menegaskan pentingnya pendidikan dan budaya sebagai instrumen diplomasi yang efektif dalam mempererat hubungan antarbangsa.“Beasiswa ini bukan hanya kesempatan belajar, tetapi jembatan pemahaman antarbudaya yang mempererat kerja sama antarnegara. Melalui pendidikan, kita menumbuhkan rasa saling percaya dan solidaritas global,” ujar Wamen Stella.Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno menekankan bahwa kerja sama internasional di bidang pendidikan tinggi merupakan bagian dari kontribusi Indonesia terhadap pembangunan global yang inklusif.“Diplomasi pendidikan adalah bentuk nyata komitmen Indonesia dalam memperkuat kerja sama selatan-selatan. Melalui pendidikan, kita membangun jejaring masa depan yang saling menguatkan,” ujarnya.Dalam forum tersebut, para peserta membahas langkah-langkah konkret untuk memperluas jangkauan Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (IACS).Program ini memberi kesempatan bagi generasi muda berusia 18–30 tahun dari berbagai belahan dunia untuk mempelajari seni, budaya, dan kehidupan masyarakat Indonesia secara langsung selama periode Juli hingga Agustus setiap tahunnya.Sejak diluncurkan lebih dari dua dekade lalu, program IACS telah diikuti oleh lebih dari 1.000 peserta dari 85 negara di lima benua, dan menjadi sarana penting dalam memperkuat hubungan antarmasyarakat melalui pendekatan budaya.Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk terus memperluas penerima beasiswa, termasuk dari kawasan Pasifik, Afrika, Asia Selatan, dan Eropa.Acara ini turut dihadiri oleh Wamendiktisaintek Stella Christie, Wamenlu Arif Havas Oegroseno, Direktur Kelembagaan Kemdiktisaintek Mukhamad Najib, Direktur Kerja Sama Pembangunan Internasional Kemlu Rina Setyawati, serta sejumlah perwakilan diplomatik dan akademisi dari berbagai negara.Dalam kesempatan yang sama, Mukhamad Najib menyampaikan rencana peningkatan jumlah penerima beasiswa serta perluasan kerja sama antara kampus Indonesia dan universitas luar negeri.“Tahun depan, jumlah penerima Beasiswa TIA akan ditingkatkan dari 175 menjadi 250 mahasiswa internasional. Kami juga mendorong universitas negeri dan swasta di Indonesia untuk memperluas tawaran beasiswa bagi mahasiswa asing,” jelasnya.Selain peningkatan kuota, pertemuan tersebut juga membahas kemudahan administrasi visa, peningkatan tunjangan hidup bagi mahasiswa asing, serta upaya membentuk asosiasi alumni IACS yang solid sebagai jejaring diplomasi budaya jangka panjang.Wamendiktisaintek Stella menutup pertemuan dengan menegaskan kembali komitmen Indonesia untuk membuka ruang belajar yang inklusif bagi dunia.“Pendidikan adalah diplomasi terbaik kita. Melalui pertukaran ilmu dan budaya, Indonesia ingin membangun masa depan dunia yang saling memahami dan menghargai,” pungkasnya.Program IACS diharapkan terus menjadi jembatan penting dalam memperkuat diplomasi kebudayaan, serta memperluas kontribusi Indonesia bagi perdamaian dan persahabatan antarbangsa. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi