Batam (buseronline.com) - Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mendorong penguatan ekosistem riset dan industri semikonduktor nasional sebagai bagian dari strategi kemandirian teknologi Indonesia.Upaya ini ditegaskan melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Perumusan Problem Statement Riset Bidang Semikonduktor yang digelar di Politeknik Negeri Batam, Kamis.Kegiatan tersebut dibuka oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, M Fauzan Adziman, dan dihadiri Direktur Hilirisasi dan Kemitraan, Yos Sunitiyoso.FGD menghadirkan pakar akademisi dan pelaku industri, di antaranya Kuwat Triyana (Universitas Gadjah Mada), Riri Fitri Sari (Universitas Indonesia), Permata Nur Miftahur Rizki (Universitas Prasetiya Mulya), serta dosen Politeknik Negeri Batam. Dari sisi industri hadir perwakilan PT Infineon Technologies Batam, Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia, dan BP Batam yang membahas kebutuhan dan tantangan sektor semikonduktor di lapangan.Dalam arahannya, Dirjen Fauzan Adziman menegaskan bahwa pemerintah tengah membangun ekosistem riset dan industri semikonduktor yang terintegrasi, sejalan dengan strategi nasional semikonduktor yang menjadi arahan Presiden.“Kita ingin memastikan riset dan investasi di bidang semikonduktor dilakukan secara terarah, berbasis kebutuhan industri, serta ditopang oleh pengembangan talenta nasional yang kuat,” ujar Fauzan.Selain kegiatan FGD, tim Ditjen Risbang juga melakukan kunjungan lapangan ke Teaching Factory Politeknik Negeri Batam, serta ke PT Infineon Technologies Batam dan PT Pegaunihan.Kunjungan tersebut bertujuan meninjau langsung proses manufaktur, memperoleh masukan dari pelaku industri, serta memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri semikonduktor dalam pengembangan riset dan sumber daya manusia.Dari perspektif industri, Direktur Logistik PT Infineon Technologies Batam, Aldrin Purnomo, menyoroti dua tantangan utama yang harus dijawab segera, yakni ketersediaan SDM kompeten dan dukungan regulasi pemerintah.“Pertanyaan utama dari mitra global selalu sama: apakah Indonesia memiliki talenta yang siap menjalankan industri ini, dan sejauh mana dukungan pemerintah? Ini dua hal yang harus dijawab secara konkret,” tegas Aldrin.Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Riset, Data, Pengembangan Teknologi dan Ekosistem Digital HKI Indonesia, Rizki Aditya Nugraha, menilai Batam memiliki keunggulan strategis untuk pengembangan industri berteknologi tinggi karena dukungan infrastruktur, energi, dan konektivitas ekspor.Ia juga menekankan pentingnya harmonisasi regulasi pusat-daerah serta insentif fiskal kompetitif guna menarik investasi baru di sektor semikonduktor.Dari kalangan akademisi, para pakar perguruan tinggi menegaskan pentingnya penguatan riset dari hulu ke hilir, mulai dari pengolahan material dasar (seperti silika), desain chip, hingga assembly, test, and packaging (ATP).Mereka juga menyoroti perlunya investasi besar pada pengembangan SDM riset, serta kolaborasi lintas sektor agar hasil riset dapat langsung diimplementasikan untuk memperkuat daya saing industri nasional.Menutup kegiatan, Dirjen Fauzan menyampaikan bahwa hasil FGD ini akan dirumuskan menjadi problem statement riset yang menjadi dasar pembukaan program pendanaan riset strategis nasional melalui skema LPDP Co-Funding dan Riset Berdampak.“Langkah awal ini penting untuk menentukan posisi Indonesia dalam rantai nilai global semikonduktor. Kita ingin memastikan setiap riset yang dibiayai negara berdampak nyata bagi industri dan kemandirian teknologi nasional,” pungkasnya.Kegiatan FGD ini menjadi bagian dari agenda nasional penguatan riset dan inovasi di bidang semikonduktor, sekaligus upaya strategis untuk mempercepat transformasi teknologi dan kemandirian industri Indonesia di tengah persaingan global yang semakin kompetitif. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi