Pekalongan (buseronline.com) - Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) sekaligus Bunda Forum Anak Nasional (FAN) Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, menegaskan pentingnya membangun budaya inklusif di lingkungan pesantren sebagai langkah mewujudkan program pesantren ramah anak di Jawa Tengah.“Pesantren ramah anak prinsipnya adalah memastikan bahwa pesantren itu memprioritaskan kepentingan anak,” ujar Nawal seusai menghadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Gedung Kanzus Sholawat Habib Luthfi, Kota Pekalongan, Minggu.Menurut Nawal, budaya inklusif di pesantren penting untuk menumbuhkan sikap saling menghormati, menghargai, dan tidak membeda-bedakan antarsantri. Ia menjelaskan bahwa menciptakan pesantren ramah anak bukan hanya dengan membuat Standar Operasional Prosedur (SOP), melainkan juga dengan menginternalisasi nilai-nilai kemanusiaan di lingkungan pendidikan keagamaan tersebut.“Kita tidak hanya butuh SOP, tapi bagaimana nilai-nilai saling menghormati, menyayangi, tolong-menolong, serta rendah hati benar-benar dikembangkan. Bukan hanya untuk anak, tapi juga bagi para pengasuh, pengurus, dan stakeholder lain,” tegasnya.Lebih lanjut, Nawal menyampaikan bahwa pesantren ramah anak harus menjamin hak-hak anak terpenuhi dengan baik, mulai dari aspek pendidikan, kesehatan, gizi, hingga sarana dan prasarana yang layak. Prinsip utamanya, kata dia, adalah lingkungan tanpa kekerasan dan memberikan ruang partisipasi aktif bagi anak-anak.“Anak-anak harus dilibatkan dalam setiap diskusi agar mereka terbiasa menyampaikan pendapat dan merasa dihargai,” tutur Pengasuh Ponpes Al-Anwar Rembang tersebut.Selain itu, Nawal juga menekankan pentingnya pencegahan kekerasan seksual di lingkungan pesantren. Ia mendorong adanya manajemen pengaduan dan mekanisme rehabilitasi bagi korban kekerasan.“Kita harus menjadi konsultan sebaya, agar bisa menjadi teman dan pendengar bagi teman yang lain,” katanya.Nawal menyebutkan bahwa berbagai pihak telah berkolaborasi untuk mewujudkan pesantren ramah anak di Jawa Tengah, di antaranya Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU), Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama, serta UNICEF. Menurutnya, keterlibatan semua pihak merupakan kunci menciptakan pesantren yang aman, nyaman, dan bebas kekerasan.Diketahui, program Pesantren Ramah Anak merupakan salah satu inisiatif yang terus digalakkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi. Pemprov bekerja sama dengan Kanwil Kementerian Agama Jateng, UNICEF, dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Klaten dalam pelaksanaannya.Sebagai langkah konkret, Pemprov Jateng telah membentuk pilot project pesantren ramah anak di Ponpes Al-Anwar IV dan Ponpes Alhamdulillah Kabupaten Rembang, yang kini telah memiliki Satgas Anti-Bullying.Selain itu, sosialisasi dan edukasi terus dilakukan, seperti kegiatan Keterampilan Hidup Remaja pada Mei 2025 lalu, yang diikuti sekitar 200 santri di Jawa Tengah. Program tersebut berfokus pada peningkatan kapasitas santri untuk memahami hak-hak anak, termasuk perlindungan dari kekerasan, diskriminasi, dan eksploitasi, serta mendorong partisipasi aktif mereka.“Dengan budaya inklusif dan lingkungan yang aman, pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tapi juga tempat tumbuhnya generasi berkarakter, empatik, dan berdaya,” pungkas Nawal. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi