Bandung (buseronline.com) - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menegaskan komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung dalam memperkuat kebangsaan dan menjaga toleransi antarumat beragama melalui kebijakan publik yang nyata. Pernyataan ini disampaikan saat menjadi pembicara dalam Talkshow “Memperkuat Kebangsaan dan Toleransi Menuju Bandung Harmoni” di GKI Maulana Yusuf, Sabtu.Menurut Farhan, perbedaan agama, etnis, dan budaya di Bandung harus dipandang sebagai kekuatan, bukan sumber konflik. “Hidup beragama itu harus berdampingan. Pancasila mengajarkan kita untuk hidup bersama dalam keberagaman. Inilah yang harus terus kita rawat,” ujarnya.Ia menekankan dua parameter penting bagi Pemkot Bandung: Pertama, tidak boleh ada gesekan yang merusak kebebasan warga, terutama dalam menjalankan ibadah. Kedua, kebebasan berekspresi harus dijalankan seimbang dengan keamanan masyarakat. “Demonstrasi dan perbedaan pendapat boleh saja, tapi jangan sampai mengganggu hak orang lain,” tegas Farhan.Farhan menilai, meski demokrasi Indonesia masih menyisakan berbagai pekerjaan rumah, perjalanan bangsa pascareformasi patut disyukuri. “Perjalanan bangsa kita sejak reformasi memang belum selesai. Banyak hal yang masih menjadi unfinished business. Tapi kita bersyukur karena relatif tidak ada eskalasi besar dalam konflik sosial,” jelasnya.Sebagai langkah konkret menjaga toleransi, Pemkot Bandung melaksanakan beberapa program. Di antaranya pembangunan pemakaman bagi penganut kepercayaan, revitalisasi kampung toleransi, serta rencana pembangunan kompleks rumah ibadah lintas agama. “Ini adalah ruang bersama yang kami sediakan agar seluruh warga merasa diakui dan dihargai,” ungkapnya.Selain itu, Pemkot Bandung mengembangkan program pendidikan kebangsaan di sekolah bekerja sama dengan TNI dan Polri. Program ini memberikan pembekalan kedisiplinan, wawasan kebangsaan, bela negara, dan pembinaan mental bagi siswa SMP kelas 3. Farhan menekankan pentingnya pembekalan tersebut untuk mencetak generasi berkarakter kebangsaan kuat.“Transisi dari SMP ke SMA rawan, karena itu harus kita siapkan dengan baik. Kalau hari ini kita bimbing anak SMP, maka 20 tahun lagi mereka akan tumbuh sebagai generasi produktif yang punya karakter kebangsaan kuat,” jelas Farhan.Farhan juga menegaskan bahwa pembangunan toleransi tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri. Dibutuhkan dukungan tokoh agama, akademisi, komunitas, dan seluruh elemen masyarakat. “Pemerintah hadir dengan kebijakan publik, tapi masyarakat juga harus aktif menjaga kebersamaan. Toleransi itu harus dibangun bersama-sama,” kata Farhan.Talkshow yang diikuti tokoh agama, pemuda, komunitas, dan akademisi ini berlangsung dinamis dengan berbagai masukan kritis kepada Pemkot Bandung. Farhan menyambut baik masukan tersebut sebagai bahan perbaikan kebijakan di masa mendatang.“Bandung Harmoni bukan sekadar jargon, melainkan komitmen bersama. Dengan kerja sama semua pihak, saya yakin Bandung bisa menjadi teladan kota yang rukun dalam keberagaman,” pungkasnya. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi