Makassar (buseronline.com) - Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Khairul Munadi, menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus menjadi motor transformasi sosial-ekonomi dan inovasi demi tercapainya visi Indonesia Emas 2045. Hal ini disampaikannya dalam orasi ilmiah pada peringatan Dies Natalis ke-26 Universitas Almarisah Madani, Sabtu.“Kecerdasan buatan, big data, bioteknologi, hingga otomasi akan mengubah wajah dunia kerja. Di saat yang sama, kita juga menghadapi perubahan iklim, kesehatan publik, dan ketidakpastian geopolitik. Semua itu menuntut solusi berbasis ilmu pengetahuan,” jelas Dirjen Khairul mengutip kutipan Nelson Mandela, “Pendidikan tinggi adalah senjata paling ampuh untuk mengubah masa depan bangsa.”Rektor Universitas Almarisah Madani, Nursamsiar, menyambut baik arahan tersebut dan menegaskan komitmen kampus untuk menjadi bagian dari transformasi pendidikan tinggi di Indonesia. “Universitas tidak cukup berhenti di ruang kuliah. Kami ingin menjadi kampus berdampak yang menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat, khususnya di Sulawesi, dan ikut menguatkan agenda Indonesia Emas 2045,” ujarnya.Dirjen Khairul memaparkan evolusi pendidikan tinggi dari Universitas Klasik (1.0) yang berfokus pada pengajaran, Universitas Riset (2.0) yang menekankan inovasi ilmiah, Universitas Kewirausahaan (3.0) yang bersinergi dengan industri, hingga Universitas 4.0 yang menekankan digitalisasi, dampak sosial, inovasi inklusif, dan keberlanjutan. Kolaborasi kini tidak hanya melibatkan akademisi, industri, dan pemerintah, tetapi juga masyarakat luas (quadruple helix).“Tujuan akhirnya adalah transformasi sosial-ekonomi dan pencapaian SDGs. Kampus harus menjadi ruang lahirnya solusi, bukan hanya tempat belajar,” tegas Dirjen Khairul.Dirjen Dikti juga menekankan pembangunan mental generasi emas melalui semangat kolaboratif, fondasi etika dan spiritual, pola pikir bertumbuh, serta orientasi berdampak. Strategi pendidikan tinggi diarahkan pada kontribusi nyata bagi masyarakat melalui pendidikan berbasis dampak, challenge-based learning, integrasi capstone project, serta keterlibatan komunitas.“Perguruan tinggi juga didorong memperkuat riset dan inovasi terapan, khususnya di bidang kesehatan dan teknologi, sehingga hasilnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Digitalisasi dan internasionalisasi menjadi kunci memperluas jejaring akademik, namun transformasi ini tetap harus berlandaskan karakter madani,” jelasnya.Orasi ilmiah tersebut diakhiri dengan seruan optimis. Pendidikan tinggi, tegas Dirjen Khairul, tidak boleh hanya menghasilkan lulusan dengan ijazah, tetapi juga generasi yang mampu menghadirkan dampak dan solusi nyata bagi masyarakat.“Kampus harus bisa melahirkan dampak yang nyata, bukan hanya gelar semata. Inilah jalan kita menuju Indonesia Emas 2045,” pungkas Khairul Munadi. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi