Bandung (buseronline.com) - “Pertama kalinya dalam sejarah, kita mempunyai pilihan.” Kalimat ini menjadi penegasan pentingnya material sebagai fondasi perubahan besar peradaban dan arah masa depan teknologi, sebagaimana disampaikan Profesor Konstantin Novoselov, peraih Nobel Fisika 2010, saat membuka sesi pleno pertama Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) Indonesia 2025 di Sasana Budaya Ganesa, Kamis.Dalam pemaparannya, profesor asal National University of Singapore itu menjelaskan bahwa material selalu menjadi penanda era peradaban manusia, mulai dari zaman batu, perunggu, besi, hingga memasuki era digital, nuklir, dan silikon.“Untuk pertama kalinya, umat manusia tidak perlu memilih satu usia material tertentu, melainkan dapat membuka berbagai kemungkinan melalui rekayasa material modern,” ujarnya.Novoselov menekankan, kemajuan teknologi saat ini memungkinkan ilmuwan mendesain material dari tingkat atom, sehingga dapat menciptakan material canggih yang disesuaikan dengan kebutuhan industri maupun tantangan lingkungan.“Jika Anda akan mendesain material atom demi atom, satu-satunya batasan adalah imajinasimu,” katanya.Ia juga menyoroti perkembangan riset graphene—material 2D dengan kekuatan luar biasa dan konduktivitas listrik tinggi—yang kini diproduksi massal untuk berbagai industri, mulai dari perangkat elektronik, baterai, hingga optoelektronik.“Setiap telepon genggam yang kita beli saat ini pasti mengandung graphene,” ujar Novoselov.Lebih jauh, ia menilai potensi terbesar graphene terletak pada functional intelligent materials, yaitu material masa depan yang dapat merespons rangsangan, menyimpan memori, dan memproses data layaknya otak manusia. Novoselov berharap akan lahir kolaborasi riset yang inklusif dan inovatif, baik di Asia maupun dunia, khususnya terkait pengembangan material.Sesi pleno tersebut sejalan dengan arah kebijakan strategis Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui program “Diktisaintek Berdampak”, yang mendorong penelitian unggul secara akademik sekaligus aplikatif, lintas disiplin, dan berkelanjutan.Melalui forum seperti KSTI Indonesia 2025, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya menjadikan Indonesia bukan hanya sebagai pengguna teknologi, melainkan pionir dalam pengembangan material dan ilmu terapan berbasis riset unggulan. Dengan riset material sebagai garda depan inovasi nasional, Indonesia dinilai siap memasuki era transformasi teknologi global secara berdaulat dan berkelanjutan. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi