Paris (buseronline.com) - Di tengah hangatnya udara musim panas Paris, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Paris menjadi tuan rumah sebuah forum dialog yang menggugah semangat dan membuka cakrawala. Bertajuk “Ngobrol Santai Bersama Mendiktisaintek”, acara yang digelar Jumat ini menghadirkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, sebagai narasumber utama.Forum ini menjadi wadah temu gagasan antara mahasiswa, peneliti, dosen, dan diaspora Indonesia di Prancis dengan pemerintah, khususnya terkait masa depan pendidikan tinggi, riset, dan teknologi nasional. Acara digelar dalam format hybrid dan merupakan kolaborasi antara KBRI Paris, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Paris, serta komunitas diaspora Indonesia.Mengawali rangkaian acara, Menteri Brian diterima dalam audiensi khusus oleh Duta Besar RI untuk Prancis. Pertemuan berlangsung hangat, membahas peluang strategis kerja sama pendidikan dan riset antara Indonesia dan Prancis. Hal ini menjadi bagian dari rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto ke Paris, sekaligus memperingati 75 tahun hubungan diplomatik RI–Prancis.Dalam kunjungan tersebut, turut dilakukan penandatanganan dua naskah penting: Persetujuan Bidang Pendidikan Tinggi serta Persetujuan Bidang Kerja Sama Riset Ilmiah, Teknologi, dan Inovasi, menandai komitmen bersama dalam penguatan hubungan antarlembaga akademik kedua negara.Forum diskusi resmi dibuka oleh Ramadansyah Hasan, Wakil Kepala Perwakilan RI di Paris, yang mewakili Duta Besar RI. Hadir pula I G A Satrya Wibawa dari Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, serta Luh Anik Mayani, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Paris.Sebanyak 31 peserta hadir langsung di KBRI Paris, sementara puluhan lainnya bergabung secara daring. Diskusi berlangsung dinamis. Para mahasiswa dan peneliti diaspora menyampaikan pandangan kritis dan aspiratif seputar kebijakan pendidikan tinggi, arah ekosistem riset nasional, serta peran diaspora dalam mendorong inovasi teknologi Indonesia.Menteri Brian menanggapi dengan terbuka dan penuh empati. Ia tidak hanya memberikan jawaban formal, tetapi juga mengajak berdialog dan mendengarkan. Sejumlah peserta bertanya tentang strategi berkontribusi setelah studi, peluang riset kolaboratif, hingga kesiapan Indonesia menyerap potensi diaspora.Tak hanya membahas kebijakan, Menteri Brian juga berbagi sisi personal dalam perjalanan akademik dan profesionalnya. Ia mengenang masa studi di Jepang, pengalaman bekerja sambil kuliah, hingga menjadi reporter Piala Dunia sebelum kembali ke Indonesia sebagai dosen ITB dan kini menjabat sebagai Menteri.“Jalan sukses tidak selalu lurus, tapi bisa dicapai dengan kerja keras, ketekunan, dan dedikasi,” ujar Brian, disambut tepuk tangan para peserta.Kerja sama Indonesia dan Prancis dalam pendidikan dan riset telah berjalan nyata, antara lain melalui LPDP–France PhD Joint Scholarship Program, LPDP–France Master Program, serta program riset Partenariat Hubert Curien (PHC) Nusantara. Kolaborasi ini diharapkan terus berkembang, membuka ruang inovasi baru antarperguruan tinggi dan lembaga riset kedua negara.Menteri Brian menutup dialog dengan mengutip pesan Presiden Prabowo Subianto: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menguasai sains dan teknologi.”Forum ditutup dengan penyerahan cenderamata kepada KBRI Paris, dilanjutkan dengan makan malam bersama dalam suasana hangat dan kekeluargaan. Malam itu bukan sekadar pertemuan biasa, tetapi menjadi simbol harapan dan tekad untuk terus berkarya dan membangun negeri, dari Paris untuk Indonesia. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi