Merauke (buseronline.com) - Di ujung timur Nusantara, saat matahari pertama kali menyapa Indonesia, harapan tumbuh dalam sunyi yang tidak pernah sepi semangat. Di ruang-ruang kuliah Universitas Musamus Merauke, gema langkah mahasiswa Papua penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-Kuliah) menjadi denyut harapan yang pelan-pelan menggetarkan masa depan, Kamis (3/7/2025).Bagi Klitus Kosai, mahasiswa semester empat Jurusan Ekonomi Pembangunan, KIP-Kuliah bukan sekadar kartu bantuan. Ia adalah jembatan harapan yang membawanya dari Wamena menuju cita-cita meraih gelar sarjana.“Ayah saya petani, ibu saya ibu rumah tangga biasa,” tuturnya lirih namun penuh semangat.Dengan nada syukur yang tulus, Klitus mengaku bantuan tersebut sangat membantunya untuk tetap bertahan di dunia pendidikan tinggi.“Puji Tuhan, saya bisa bayar UKT, bisa makan, dan tetap kuliah,” ucapnya, senyumnya menguatkan makna harapan itu sendiri.Tak jauh dari ruang kuliah Klitus, kisah serupa tumbuh dari hati Maria Dunanda Mustira Kowirep Kaikman, mahasiswi Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan. Lahir dari keluarga sederhana—ayah seorang buruh tani dan ibu pemilik kios kecil—Maria melihat KIP-Kuliah sebagai peluang hidup yang tidak semua orang dapatkan.“KIP-Kuliah bukan hanya kartu. Itu jembatan saya menuju cita-cita. Saya ingin jadi perempuan Papua yang berdampak untuk daerah saya,” ujarnya penuh percaya diri.Menurut Maria, pendidikan tinggi harus menjadi akar perubahan yang tumbuh perlahan tapi kokoh, sebagaimana pohon sagu yang menjadi lambang kekuatan masyarakat Papua. Ia berharap sistem pendidikan ke depan lebih selaras dengan potensi dan minat lokal.“Kalau bisa, sejak SMP sampai kuliah, pelajaran disesuaikan dengan bakat dan minat anak. Misalnya saya tertarik di bangunan, berarti dari awal difokuskan ke situ. Jadi anak-anak Papua bisa belajar sesuai potensi,” harapnya.Maria menilai bahwa pendidikan bukan hanya soal ijazah, tetapi juga soal membentuk kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Ia pun mendorong agar kebijakan seperti “Kampus Berdampak” terus dikembangkan dengan melibatkan masyarakat secara aktif.“Saya harap program-program seperti ini bisa lebih disesuaikan dengan budaya dan kearifan lokal di sini,” tambahnya.Sebagai mahasiswa yang aktif di organisasi kampus, Maria ingin ikut ambil bagian dalam kegiatan pengabdian masyarakat. Baginya, program “Kampus Berdampak” tidak hanya memperkuat kualitas lulusan, tetapi juga membentuk generasi yang memiliki komitmen untuk membangun daerahnya.“Saya ingin terlibat lebih jauh. Program ini menantang kita untuk bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya penuh semangat.Kisah Klitus dan Maria adalah potret nyata bahwa KIP-Kuliah bukan sekadar program bantuan pendidikan, tetapi penggerak perubahan sosial yang dimulai dari ruang-ruang kuliah yang sederhana. Mereka adalah denyut harapan bangsa yang berdetak tenang, melangkah pasti menuju masa depan Indonesia Emas.Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mencatat, pada tahun 2025 Universitas Musamus Merauke memiliki 223 penerima KIP-Kuliah dari jalur SNBP dan SNBT. Sementara itu, total kuota KIP-Kuliah untuk seluruh wilayah Papua, baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta, mencapai 4.544 orang. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi