Yogyakarta (buseronline.com) - Perpaduan unik antara seni, sejarah, sains, dan teknologi tersaji dalam panggung rapsodi bertajuk Science and Art 8.0 (SciArt 8.0) yang digelar di Ruang Sultan Agung, Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Senin.Acara ini menjadi bentuk penghormatan terhadap para ilmuwan—pahlawan yang kerap bekerja dalam keheningan, namun memberi dampak besar bagi kemajuan peradaban.Pameran ini diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI).Salah satu daya tarik utama adalah deretan lukisan potret tokoh-tokoh ilmuwan Indonesia dan dunia karya seniman Paul Hendro.“Kami ingin menghidupkan kembali tradisi Padarman dalam wujud modern sebagai bentuk penghormatan terhadap pemikiran dan kontribusi para ilmuwan,” ujar Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Yudi Darma, dalam sambutannya.Menurut Yudi, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak hanya mengenang pejuang di medan perang, tetapi juga menghargai para pemikir dan peneliti yang berjuang melalui ilmu pengetahuan. SciArt 8.0 menjadi ruang apresiasi sekaligus medium edukasi bagi masyarakat untuk mengenali bahwa kepahlawanan bisa lahir dari ruang laboratorium, ruang kelas, hingga ruang gagasan.Sejarawan dari Monash University, Luthfi Adam, mengemukakan bahwa Indonesia kini memasuki era science society atau masyarakat ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, sudah saatnya ilmuwan dimasukkan ke dalam narasi sejarah nasional.“Selama ini sejarah kita terlalu fokus pada perang. Sekarang saatnya kita menulis sejarah riset dan sains. Sejarawan dan ilmuwan harus bekerja sama dalam proses ini,” tegas Luthfi.Pandangan senada disampaikan Dekan FMIPA UGM, Kuwat Triyana. Ia menyoroti kesenjangan komunikasi antara ilmuwan dan masyarakat.“Ilmuwan cenderung bangga jika hasil risetnya kompleks dan sulit dimengerti, padahal tantangannya adalah bagaimana membuat sains menjadi mudah dipahami dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” jelas Kuwat.Pameran ini juga menampilkan visualisasi narasi sejarah ilmiah melalui karya seni rupa. Paul Hendro, sang pelukis, mengungkapkan bahwa pameran ini merupakan bentuk upaya menyambungkan dunia ilmiah dengan seni lukis, yang selama ini lebih banyak mengabadikan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan.“Selama ini, ilmuwan kurang mendapat tempat dalam dunia seni lukis. Dengan lukisan potret, saya ingin menghadirkan wajah-wajah para ilmuwan agar lebih dikenali dan dihargai,” kata Paul.Program SciArt 8.0 merupakan kelanjutan dari serangkaian agenda kolaborasi seni dan pengetahuan yang telah dimulai sejak 2022, antara lain “Pekan Wirabangsa” di Pasar Seni Ancol dan “Seabad Para Kalangwan” di tahun 2024. Setiap acara berupaya mengangkat peran tokoh intelektual dan kreatif dalam sejarah nasional melalui medium artistik.Redaktur Harian Kedaulatan Rakyat, Octo Lampito, menilai pendekatan ini efektif untuk menjangkau generasi muda yang lebih visual dan emosional dalam mengakses informasi.“Melalui seni, pesan sains bisa ditangkap dengan lebih mendalam dan menyentuh. Ini bisa menjadi terobosan dalam diseminasi sains yang selama ini cenderung kaku,” tuturnya.Staf Khusus Mendiktisaintek bidang Komunikasi Publik dan Media Massa juga menegaskan bahwa pendekatan multidisiplin seperti ini akan memperkaya cara berkomunikasi tentang sains kepada publik.Mengusung semangat kolaborasi lintas generasi dan lintas disiplin, SciArt 8.0 menjadi cermin bahwa sains dan seni bukan dua kutub yang saling bertolak belakang, melainkan dua kekuatan budaya yang jika dipadukan, dapat mendorong kemajuan bangsa.“Semoga pameran ini menjadi titik temu antara masa lalu dan masa depan, antargenerasi dan antardisiplin. Dari sini, kami berharap tumbuh rasa ingin tahu dan kolaborasi-kolaborasi baru,” pungkas Yudi Darma. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi