Yogyakarta (buseronline.com) - Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar Innovation Festival (Innofest) 2025 dengan tema “Halal & Sustainable: Future of Industry”, Kamis. Acara yang berlangsung di Kampus UII Yogyakarta ini menjadi momentum strategis dalam menguatkan sinergi lintas sektor untuk mendorong pengembangan industri halal dan berkelanjutan di Indonesia.Hadir dalam acara tersebut Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), M Fauzan Adziman, serta Staf Khusus Menteri Bidang Jejaring Industri dan Kerja Sama Luar Negeri, Oki Earlivan. Keduanya menekankan pentingnya kolaborasi pentahelix—yakni antara akademisi, industri, pemerintah, masyarakat, dan media—untuk menjawab tantangan global melalui hilirisasi riset dan inovasi.Innofest 2025 diinisiasi oleh Pusat Ekosistem Inovasi & Akselerasi Bisnis (PEIAB-ANGEL) yang berada di bawah Direktorat Pembinaan dan Pengembangan Kewirausahaan UII. Festival ini menghadirkan hasil-hasil riset terapan dan diskusi publik mengenai transformasi industri berbasis nilai-nilai halal dan keberlanjutan, serta memperkuat koneksi antara kampus dan dunia usaha.Wakil Rektor UII Bidang Pengembangan Akademik dan Riset, Jaka Nugraha, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan perwujudan komitmen UII dalam mendorong riset yang berdampak nyata bagi masyarakat.“Fokus ke depan harus pada dampak. Hilirisasi riset tak boleh lagi berhenti di publikasi, tapi benar-benar masuk ke industri, terutama dalam penguatan industri halal yang potensinya besar di Indonesia,” ujar Jaka.Dalam sambutannya, Dirjen Risbang Fauzan menyampaikan bahwa hilirisasi riset membutuhkan keberanian untuk berpikir lateral dan menjalin kolaborasi antarsektor. Ia mencontohkan bagaimana inovasi dari satu sektor bisa menginspirasi pengembangan di sektor lain, seperti teknologi mesin jet yang memengaruhi pengembangan turbocharger di industri otomotif.“Ada dua kunci dalam membangun industri dari riset, yaitu value—baik ekonomi, sosial, maupun keagamaan—dan scalability, yakni potensi tumbuh berkelanjutan,” jelasnya.Fauzan juga menekankan bahwa keberhasilan hilirisasi sangat bergantung pada investment in people—yakni kemampuan sumber daya manusia dalam meyakinkan industri untuk berinvestasi sejak tahap awal.Sementara itu, Staf Khusus Menteri, Oki Earlivan, menyoroti stagnasi hilirisasi riset sebagai tantangan besar peningkatan daya saing bangsa. Ia mengusulkan pentingnya membentuk Technology Transfer Office (TTO) nasional yang terintegrasi hingga ke level kampus dan daerah.“TTO harus jadi jembatan antara riset kampus dengan kebutuhan industri. Tanpa itu, banyak potensi riset yang akan hilang begitu saja tanpa dampak ekonomi,” ungkap Oki.Ia menambahkan, sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi harus diperkuat untuk menjadikan hasil riset sebagai solusi nyata bagi tantangan industri dan sosial.Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Sumiarto, menambahkan bahwa 98 persen pelaku industri di daerahnya adalah UMKM, dan kesadaran akan pentingnya produk halal menjadi krusial.“Hingga tahun 2025, sudah ada 102 sertifikasi halal melalui skema self-declare. Karena mayoritas penduduk kita Muslim, penting untuk terus meningkatkan pemahaman pelaku usaha terhadap halal,” ujarnya.Innofest 2025 menjadi bukti nyata bahwa universitas, pemerintah, dan industri dapat berkolaborasi dalam membangun ekosistem inovasi inklusif dan berkelanjutan. Melalui pendekatan pentahelix, diharapkan tercipta solusi konkret bagi pengembangan industri masa depan—yang tidak hanya kompetitif secara global, tetapi juga berpihak pada nilai-nilai keberlanjutan dan kearifan lokal.Dengan semangat Diktisaintek Berdampak, Kemdiktisaintek mengajak seluruh pihak untuk bergotong royong menjadikan inovasi sebagai bagian integral dari pertumbuhan ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi