Jakarta (buseronline.com) - Pemerintah Indonesia dan Chile memperkuat kerja sama strategis di bidang sains, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan melalui pertemuan bilateral yang berlangsung di kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Jakarta, Senin.Kunjungan kehormatan Duta Besar Chile untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor-Leste, H E Mario Ignacio Artaza, menjadi momentum penting dalam merancang rencana kerja sama antarnegara, khususnya di sektor penelitian dan pengembangan teknologi.Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, dalam sambutannya menekankan bahwa kerja sama internasional ini selaras dengan visi Indonesia Emas 2045 dan arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.“Kami sangat ingin mengembangkan strategi dan kolaborasi penelitian. Ada pesan yang sangat jelas dari Presiden kami, bahwa sains dan teknologi adalah aspek penting untuk mengembangkan dan meningkatkan ekonomi negara,” ujar Stella.Dalam pertemuan tersebut, Pemerintah Chile menawarkan kemitraan di berbagai bidang strategis seperti astronomi—yang menjadi kekuatan utama Chile di panggung global—penelitian kelautan, teknologi pangan, eksplorasi Antartika, pemberdayaan perempuan di bidang sains dan pertahanan, serta pengembangan kota berbasis ekosistem lahan basah (wetland cities), sejalan dengan komitmen kedua negara dalam The Convention on Wetlands of International Importance.Duta Besar Artaza juga menyampaikan undangan kepada Wamendiktisaintek untuk menghadiri kegiatan diplomatik yang akan digelar pada Juli mendatang, saat kapal pelatihan angkatan laut Esmeralda dari Chile merapat di Jakarta. Acara tersebut akan menonjolkan partisipasi perempuan dari kedua negara di bidang pertahanan, sebagai bagian dari peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Chile.Menanggapi tawaran tersebut, Kemdiktisaintek menyambut baik peluang kerja sama dan menyampaikan kesiapan untuk menjajaki proyek konkret dalam penguatan riset nasional. Fokus utama mencakup astronomi, teknologi energi, kelautan, serta pengembangan mineral kritikal yang sangat dibutuhkan dalam era transisi energi dan digitalisasi global.Kedua negara juga melihat peluang besar dalam pemanfaatan rumput laut (seaweed) sebagai sumber energi terbarukan dan alternatif pangan masa depan, yang menuntut dukungan infrastruktur riset dan penguatan rantai pasok.“Pendekatan yang kami dorong adalah seimbang antara pemanfaatan sumber daya alam dengan keberlanjutan dan kemandirian masyarakat,” jelas Stella.Sejumlah langkah konkret telah disepakati, antara lain pengembangan kota berbasis lahan basah, seperti Surabaya yang telah memperoleh Wetland City Accreditation, kolaborasi pemberdayaan perempuan dalam teknologi dan pertahanan, penguatan sistem peringatan dini tsunami, konektivitas kabel bawah laut, serta riset bersama di sektor pangan, termasuk teknologi pengolahan beras hemat air dan pengembangan industri buah-buahan.Duta Besar Chile menegaskan bahwa pertemuan ini merupakan awal dari serangkaian kolaborasi yang diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat di kedua negara.“Kami mendorong Indonesia untuk mengidentifikasi area prioritas yang dapat ditindaklanjuti melalui mekanisme kerja sama teknis dan institusional,” ujar Artaza.Kemdiktisaintek akan mengoordinasikan tindak lanjut dari hasil pertemuan ini bersama lembaga riset dan perguruan tinggi strategis nasional. Harapannya, kolaborasi ini akan memperkuat ekosistem riset Indonesia dan mempercepat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.Turut hadir dalam pertemuan ini, Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Ahmad Najib Burhani, Plt. Direktur Bina Talenta Penelitian dan Pengembangan Karlisa Priandana, perwakilan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, serta delegasi dari Kedutaan Besar Chile yaitu Deputy Head of Mission Francisca Klaassen dan Consul Camila Eggers. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi