Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) secara resmi meluncurkan Program Magang Berdampak 2025 sebagai bagian dari arah strategis transformasi pendidikan tinggi menuju konsep “Kampus Berdampak”. Acara peluncuran digelar di Gedung D Kemdiktisaintek, Jakarta, Senin.Program ini menjadi upaya konkret pemerintah untuk menyiapkan generasi muda yang tidak hanya siap masuk dunia kerja, tetapi juga mampu memberikan kontribusi sosial yang nyata.Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa orientasi program jauh melampaui sekadar peningkatan angka partisipasi magang.“Program ini dirancang bukan semata-mata untuk meningkatkan angka partisipasi magang, tapi juga untuk menyiapkan mahasiswa menjadi pelaku perubahan. Kita tidak hanya mencetak lulusan, tetapi agen perubahan yang memiliki kepekaan sosial, keterampilan profesional, dan daya saing global,” ujar Menteri Brian.Program Magang Berdampak 2025 merupakan kelanjutan sekaligus penyempurnaan dari Program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) yang telah berjalan sebelumnya. Dengan mengusung pendekatan experiential learning, program ini mendorong mahasiswa untuk belajar melalui pengalaman nyata di dunia kerja lintas sektor.“Mahasiswa perlu diberikan ruang untuk terlibat langsung dalam dunia kerja, menyelesaikan masalah nyata, serta membangun jejaring profesional lintas sektor. Program ini bukan sekadar magang biasa, melainkan bagian dari strategi besar Kampus Berdampak,” jelas Menteri Brian.Mitra-mitra program berasal dari berbagai sektor strategis seperti logistik, teknologi informasi, kecerdasan buatan, edutech, video streaming, robotika, smart city, ritel digital, perbankan, pelestarian budaya, hingga layanan perpustakaan digital. Hal ini memperlihatkan keterhubungan langsung antara pendidikan tinggi dengan dinamika kebutuhan industri dan masyarakat.Pendaftaran untuk mahasiswa peserta program dibuka mulai 16 Juni hingga 11 Juli 2025. Program magang akan berlangsung mulai 4 Agustus hingga 22 Desember 2025. Selama mengikuti program, peserta akan menjalani proses seleksi, pembekalan, dan pendampingan oleh dosen pembimbing lapangan. Mereka juga akan menerima bantuan biaya hidup serta melakukan pelaporan kegiatan secara berkala.Evaluasi akan dilakukan secara menyeluruh melalui laporan dari mahasiswa, mitra industri, dan perguruan tinggi. Pada akhir program, seluruh peserta wajib mengikuti proses mobilisasi kepulangan dan menyusun laporan akhir sebagai bagian dari refleksi pembelajaran.Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, memaparkan hasil evaluasi terhadap program MSIB yang menjadi cikal bakal Magang Berdampak. Ia menyebutkan bahwa program ini telah memberikan hasil yang signifikan bagi mahasiswa dan dunia kerja.“Dari hasil evaluasi, kami mencatat bahwa rata-rata gaji alumni MSIB mencapai Rp5,5 juta, atau 98,62% lebih tinggi dibandingkan data Survei Angkatan Kerja Nasional. Sebanyak 16,52% mahasiswa magang dan 6,25% peserta studi independen menerima tawaran kerja langsung dari mitra. Ini adalah prestasi yang membanggakan,” ungkap Wamen Stella.Wamen Stella juga menyoroti peran program ini dalam menciptakan keadilan sosial. Sebanyak 33% peserta berasal dari keluarga kurang mampu dan 12,44% dari orang tua yang tidak lulus SD.“Kami ingin agar magang menjadi bagian dari sistem pembelajaran, bukan hanya aktivitas tambahan. Oleh karena itu, penting agar pengalaman ini direkognisi menjadi SKS di kurikulum program studi,” tambahnya.Dalam penutupannya, Wamen Stella mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan kesempatan magang ini sebaik-baiknya sebagai ruang pembelajaran baru yang menantang namun bermakna.“Ambil inisiatif, dengarkan, serap, dan manfaatkan pengalaman magang ini sebagai ruang belajar baru yang berbeda dari kampus. Jangan sampai kalian hanya menjadi penonton, ini kesempatan untuk benar-benar bertumbuh dan berkontribusi,” pesannya.Dengan peluncuran Magang Berdampak 2025, Kemdiktisaintek berharap sinergi antara kampus, industri, dan masyarakat dapat diperkuat. Lebih dari sekadar mencetak lulusan siap kerja, program ini diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang siap berdampak bagi pembangunan bangsa dan lingkungan sekitarnya. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi