Teluk Bintuni (buseronline.com) - Pemerintah menunjukkan komitmen kuat dalam pemerataan akses pendidikan tinggi di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) melalui peluncuran Kartu Teluk Bintuni Smart dan peresmian pembangunan Kampus Universitas Muhammadiyah Teluk Bintuni (UNIMUTU).Kedua program tersebut diresmikan langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, dalam kunjungan kerjanya ke Teluk Bintuni, Papua Barat, pada Selasa. Langkah ini merupakan jawaban atas rendahnya angka partisipasi pendidikan tinggi di tanah Papua.Berdasarkan data Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XIV, Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Papua baru mencapai 11%, jauh di bawah rata-rata nasional yang berada di angka 35%. Artinya, hampir 89% pemuda Papua belum mengakses pendidikan tinggi.“Sudah saatnya kita berhenti beralasan bahwa Teluk Bintuni adalah daerah terpencil. Justru dari keterpencilan itu harus tumbuh semangat untuk mandiri, semangat untuk maju,” ujar Wamen Fauzan saat menyampaikan sambutan.Kartu Teluk Bintuni Smart dirancang sebagai program afirmatif yang menyasar putra-putri asli Papua. Kartu ini menanggung penuh biaya pendidikan, mulai dari uang kuliah, biaya hidup, hingga tempat tinggal mahasiswa. Tujuannya adalah agar mahasiswa dapat fokus sepenuhnya pada proses belajar tanpa terbebani oleh kendala finansial.Program ini juga merupakan bagian dari komitmen Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk memastikan tidak ada satu pun anak muda Papua yang tertinggal dari kesempatan pendidikan tinggi karena alasan ekonomi atau geografis.Pada hari yang sama, turut dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Kampus Universitas Muhammadiyah Teluk Bintuni (UNIMUTU). Kehadiran UNIMUTU menandai perguruan tinggi ke-127 yang berdiri di Papua dan menjadi bagian dari jaringan lebih dari 160 perguruan tinggi Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia.Kepala LLDikti Wilayah XIV, Prof Suriel Mofu, dalam sambutannya menyampaikan bahwa UNIMUTU akan mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah pusat. Termasuk di dalamnya adalah program pembinaan mutu dan akses terhadap Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, setelah akreditasi institusi selesai dilakukan.“Dari sekitar 93 ribu lulusan sarjana dalam tujuh tahun terakhir di Papua, mayoritas belum kembali mengabdi di kampung halaman. UNIMUTU diharapkan menjadi pusat pencerahan dan pemberdayaan lokal,” ujar Suriel Mofu.Peresmian kampus UNIMUTU dan peluncuran Kartu Teluk Bintuni Smart tidak akan berhasil tanpa kolaborasi erat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni telah menyediakan fasilitas pendukung, termasuk lahan dan sarana dasar, sebagai bentuk dukungan terhadap pembangunan pendidikan tinggi di wilayahnya.Langkah ini juga sejalan dengan visi Kemdiktisaintek untuk mendorong hadirnya kampus berbasis komunitas di daerah 3T, sehingga masyarakat lokal bisa mengakses pendidikan tanpa harus meninggalkan kampung halaman mereka.“Negara hadir untuk memastikan bahwa masa depan anak-anak Papua tidak lagi terhambat oleh letak geografis maupun kendala ekonomi. Melalui program ini, kami mengawal agar tidak ada lagi pemuda Papua yang tertinggal dari cita-citanya,” tutup Wamen Fauzan.Dengan hadirnya UNIMUTU dan program afirmatif seperti Kartu Teluk Bintuni Smart, diharapkan angka partisipasi pendidikan tinggi di Papua Barat dapat meningkat signifikan, dan mendorong lahirnya generasi muda Papua yang cerdas, berdaya, dan siap membangun daerahnya sendiri. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi