Sorong (buseronline.com) - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, mendorong perguruan tinggi swasta (PTS) di wilayah timur Indonesia, khususnya di Papua Barat Daya, untuk berani berinovasi dan keluar dari zona nyaman. Hal ini disampaikan dalam kunjungannya ke Sorong dalam kegiatan Diskusi Pimpinan PTS se-Papua Barat Daya, Selasa.Dalam sambutannya, Wamen Fauzan menegaskan bahwa pendidikan tinggi di kawasan timur Indonesia memiliki peran vital dalam pembangunan nasional, namun masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk disparitas kualitas pendidikan, akses, serta rendahnya persepsi publik terhadap mutu kampus swasta.“Hidup ini memerlukan energi nekat, energi gaspol. Jangan pelihara pesimisme,” ujar Wamen Fauzan dengan semangat, mengajak seluruh pimpinan perguruan tinggi di wilayah tersebut untuk lebih progresif dan adaptif dalam merespons perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat.Wamen Fauzan menilai, meskipun sebagian besar mahasiswa di Papua Barat Daya berasal dari keluarga berpenghasilan rendah dan menghadapi keterbatasan dalam sumber daya digital serta akademik, potensi lokal yang dimiliki tetap besar. Salah satu contoh keberhasilan yang diangkat adalah Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong (UNIMUDA Sorong), yang saat ini memiliki lebih dari 6.000 mahasiswa aktif—dengan 78 persen di antaranya merupakan Orang Asli Papua (OAP)—serta telah mencatat berbagai prestasi di tingkat nasional dan internasional.Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sendiri telah menetapkan transformasi digital kampus sebagai peta jalan strategis untuk akselerasi mutu pendidikan secara merata di seluruh Indonesia. Arahan ini juga sejalan dengan komitmen nasional untuk membangun Indonesia dari pinggiran, khususnya daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).Dalam forum diskusi tersebut, para pimpinan PTS turut menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi, mulai dari keterbatasan jumlah dosen bergelar doktor (S3), keterbatasan pendanaan riset, hingga minimnya infrastruktur pembelajaran digital.Meski demikian, sejumlah kampus di Sorong telah mengambil langkah konkret untuk menjawab tantangan tersebut. Beberapa di antaranya menjalankan pelatihan digital marketing untuk masyarakat lokal, mengembangkan program pendidikan kewirausahaan berbasis kerajinan khas Papua, serta mulai mengintegrasikan teknologi Virtual Reality (VR) dalam program wisata pendidikan.Wamen Fauzan menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dunia usaha, dan media. Pendidikan tinggi, katanya, harus hadir sebagai katalisator pembangunan berbasis komunitas yang inklusif dan berdaya saing.“Pendidikan tinggi adalah kunci pembangunan Papua dan wilayah timur Indonesia. Saatnya kita semua bergandengan tangan untuk membangun kampus yang inklusif, adaptif, dan unggul,” pungkasnya.Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, diharapkan perguruan tinggi swasta di Papua Barat Daya dapat menjadi kekuatan transformatif dalam mewujudkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi