Gresik (buseronline.com) - Dunia industri kerap menghadapi tantangan serius terkait rendahnya kesesuaian antara lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan di dunia kerja. Selain kompetensi lulusan, ketimpangan ini juga disebabkan oleh kurikulum pendidikan tinggi yang tertinggal dari perkembangan industri.Menyikapi hal ini, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, menyerukan perlunya perubahan mendasar di perguruan tinggi berbasis industri.Dalam kuliah tamu yang digelar di Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI), Kamis, Wamen Fauzan menekankan pentingnya transformasi kampus agar lebih responsif terhadap dinamika dunia kerja.“Sebagai kampus industri, UISI punya potensi besar untuk menjadi pelopor dalam menjawab tantangan zaman—asal berani berubah dan bergerak cepat,” ujarnya di hadapan civitas akademika dan pimpinan Yayasan Semen Indonesia Foundation.Fauzan menegaskan bahwa posisi UISI sebagai bagian dari ekosistem industri seharusnya menjadikannya model ideal dari konsep link and match antara pendidikan tinggi dan kebutuhan sektor riil.“Tidak ada alasan kampus ini tidak link and match dengan industri,” tegasnya.Lebih lanjut, Wamen Fauzan menyoroti pentingnya fleksibilitas dalam pengelolaan perguruan tinggi, terutama swasta. Menurutnya, fleksibilitas tak akan terwujud jika institusi pendidikan hanya berkutat pada urusan teknis administratif yang justru menghambat inovasi dan kemajuan.“Yang perlu kita ungkit adalah hal-hal yang bersifat substantif. Bagi saya, perlu adanya reformasi birokrasi secara menyeluruh,” tegasnya yang disambut tepuk tangan peserta kuliah tamu.Merespons pernyataan tersebut, Wakil Rektor I UISI, Prof Fahimah, menyampaikan komitmen institusinya dalam membangun kampus unggul yang relevan dengan kebutuhan masa kini. Menurutnya, seluruh program studi di UISI saat ini sedang diarahkan untuk mendukung agenda strategis pemerintah dan menyiapkan talenta unggul masa depan.“Kami berupaya agar seluruh prodi berkembang sesuai kebutuhan hari ini, terutama mendukung program pemerintah. Kami ingin menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga siap kerja,” jelasnya.Senada dengan itu, Ketua Yayasan Semen Indonesia Foundation, Effnu Subiyanto, menekankan pentingnya integrasi pengetahuan industri ke dalam kurikulum kampus. Ia menjelaskan bahwa semua pengalaman dan praktik nyata di dunia industri diolah menjadi materi pembelajaran bagi mahasiswa.“Seperti tujuan dari program Diktisaintek Berdampak, kami ingin memastikan bahwa yang kami lakukan memberi dampak nyata bagi kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia,” tuturnya.Menutup kuliah tamu, Wamen Fauzan menyerukan perlunya reformasi kurikulum dan pembukaan ruang kolaborasi yang lebih luas antara kampus dan industri.“Kampus tak cukup hanya menghasilkan lulusan, tapi harus mencetak pelopor perubahan. Dan itu hanya mungkin kalau kita mau menyesuaikan cara berpikir, cara belajar, dan cara berkarya,” pungkasnya.Kegiatan kuliah tamu ini menjadi pengingat bahwa transformasi pendidikan tinggi bukan hanya pilihan, tetapi keharusan di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Kampus yang mampu beradaptasi dan membuka diri terhadap inovasi adalah kunci mencetak generasi unggul dan relevan bagi dunia kerja masa depan. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi