Jakarta (buseronline.com) - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak perguruan tinggi teologi di Indonesia untuk mengembangkan pendekatan ekoteologi berbasis cinta, yang menekankan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.Ajakan ini disampaikan dalam pertemuan bersama para pimpinan perguruan tinggi teologi di kantor pusat Kementerian Agama, Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis.Dalam pidatonya, Menag Nasaruddin Umar menekankan pentingnya menggunakan pendekatan ekoteologi untuk mengatasi krisis lingkungan yang semakin mendesak. Ia menjelaskan bahwa ekoteologi tidak hanya tentang menjaga alam, tetapi juga tentang memperkuat hubungan spiritual antara manusia dan lingkungan hidupnya."Kami membutuhkan bahasa religi untuk meminta orang-orang mempertahankan krisis hubungan kita hari ini. Jadi, ini adalah ekoteologi, ekoteologi berdasarkan kemajuan manusia dan keluarga," ujar Menag Nasaruddin.Menurutnya, banyak persoalan sosial dan lingkungan yang terjadi saat ini berakar dari hubungan manusia yang semakin menjauh dari nilai-nilai spiritual. Ia mengajak para akademisi teologi untuk beralih dari pendekatan teologi maskulin ke teologi feminin yang lebih inklusif dan berbasis cinta."Kami berpindah dari teologi maskulin ke teologi feminin. Saya pikir ini sangat berkompat dengan kepercayaan kita. Bagi saya, Islam dan Kristianitas hampir sama pada dasarnya," jelasnya.Menag Nasaruddin juga menyoroti pentingnya nilai cinta dalam setiap ajaran agama. Ia mengkritisi praktik pengajaran agama yang kadang menumbuhkan perpecahan dan kebencian antarumat."Untuk saya, jika kita ingin mengajar kebijaksanaan di Indonesia, kita harus mulai dari cinta. Jadi, substansi pejabat, substansi religi adalah cinta," katanya.Ia menekankan bahwa cinta harus menjadi dasar utama dalam membangun hubungan antaragama dan dalam memperlakukan alam sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang perlu dijaga dan dihormati.Selain itu, Menag Nasaruddin juga mengingatkan bahwa ancaman terbesar umat manusia saat ini bukan hanya perang, tetapi juga krisis lingkungan akibat perubahan iklim yang semakin memburuk."Menurut ilmuwan lingkungan, 1 juta orang meninggal gara-gara perubahan iklim. Sebagai pemimpin, kita harus bimbangkan apa yang akan terjadi pada masa depan jika kita tidak menjaga lingkungan kita," pungkasnya.Ia berharap melalui pendekatan ekoteologi berbasis cinta, perguruan tinggi teologi dapat memainkan peran penting dalam membangun kesadaran kolektif untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama, sesuai dengan ajaran agama yang penuh cinta dan kasih sayang.Dengan langkah ini, Menag ingin membangun generasi pemimpin yang mampu melihat alam sebagai anugerah yang harus dijaga, bukan sekadar sumber daya untuk dieksploitasi. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi