Jakarta (buseronline.com) - Indonesia dan Inggris semakin memperkuat kerja sama di bidang pendidikan tinggi, riset, dan inovasi. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Dominic Jermey, pada Kamis, untuk membahas langkah strategis mempererat hubungan akademis kedua negara.Dalam pertemuan tersebut, Menteri Brian menyoroti pentingnya kolaborasi internasional untuk meningkatkan kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung industri dan masyarakat.“Beberapa hari lalu, tepatnya 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional dan meluncurkan tagline ‘Impactful Higher Education, Science, and Technology’. Kami berharap para dosen, peneliti, dan mahasiswa bisa berkontribusi bagi lingkungan sekitar, industri, dan masyarakat melalui sains dan teknologi,” ungkapnya.Menteri Brian juga menekankan perlunya peningkatan jumlah dosen bergelar doktor di Indonesia. Saat ini, dari 300 ribu dosen di 4.400 perguruan tinggi, hanya 25% yang telah menyelesaikan program doktoral.Pemerintah mendorong program percepatan S3 dan penguatan program magister berbasis kerja sama internasional melalui joint degree dan double degree.Duta Besar Dominic Jermey menyambut baik inisiatif tersebut, menyatakan bahwa Inggris berkomitmen mendukung pilar pendidikan dalam kemitraan strategis yang telah disepakati Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Inggris dalam kunjungan ke London baru-baru ini.“Hubungan antara institusi pendidikan tinggi dan riset dari kedua negara sudah kuat. Sekarang saatnya kita arahkan kolaborasi ini ke bidang strategis seperti ketahanan pangan, kesehatan, energi terbarukan, dan maritim,” ujarnya.Beberapa kampus Inggris juga semakin memperluas kehadirannya di Indonesia. Lancaster University di Bandung dan King’s College London di Malang siap beroperasi, sementara Queen Mary University dan Imperial College London menunjukkan minat untuk membuka program bersama di Indonesia.Mendiktisaintek merespons positif peluang ini dengan mendorong pembentukan konsorsium riset bersama yang melibatkan perguruan tinggi Indonesia, kampus luar negeri, serta industri nasional dengan skema pendanaan bersama (co-funding). Menteri Brian menekankan bahwa hasil riset perlu memberikan dampak nyata bagi dunia usaha.“Kami ingin riset tidak berhenti di laboratorium, tapi benar-benar bisa menjawab kebutuhan industri,” katanya.Selain itu, kerja sama di sektor maritim juga dibahas, termasuk kolaborasi dengan PT PAL dan PT Pindad serta dukungan perusahaan Inggris seperti Babcock untuk pengadaan kapal penangkap ikan, kapal medis, dan sistem keamanan maritim.Menutup pertemuan, Menteri Brian mengusulkan program magister kolaboratif singkat untuk eksekutif industri dan pemerintah, dengan pengajaran intensif dari dosen Indonesia dan Inggris, baik secara daring maupun luring.“Presiden ingin melahirkan pemimpin dengan kapasitas strategis di bidang ekonomi dan keuangan nasional,” pungkasnya. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi