Jakarta (buseronline.com) - Kemendikbudristek menggelar Roots Day Nasional 2024 di Gedung Kemendikbudristek, Jakarta, Senin.Acara ini merupakan sorotan utama dalam Pekan Untuk Sahabat Karakter (Pusaka) 2024, yang bertujuan untuk menangani isu perundungan yang masih marak di lingkungan pendidikan.Acara dibuka oleh Staf Ahli Mendikbudristek Bidang Hubungan Kelembagaan dan Masyarakat, Muhammad Adlin Sila. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya langkah konkret untuk mengatasi perundungan. “Program Roots tidak hanya memberikan pelatihan kepada guru, tetapi juga memberdayakan 173.240 agen perubahan di kalangan siswa. Survei U-Report 2022 menunjukkan bahwa 42 persen peserta didik merasakan dampak positif dari program ini, dan 32 persen melaporkan penurunan kasus perundungan di sekolah mereka,” ujarnya.Adlin juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pihak untuk menjaga keberlanjutan program ini. Program Pencegahan Perundungan Roots Indonesia, yang telah berjalan sejak 2021, merupakan hasil kerja sama antara Kemendikbudristek dan UNICEF. Hingga saat ini, program ini telah menjangkau 33.777 satuan pendidikan di 509 kabupaten/kota di 38 provinsi. “Kita harus terus berupaya untuk memastikan setiap anak belajar di lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan,” tambahnya.Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikbudristek, Rusprita Putri Utami, menyatakan bahwa Roots Day Nasional 2024 menjadi momentum untuk memperkuat dampak program ini. “Kami mengajak siswa tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai motor penggerak dalam menghentikan perundungan di sekolah,” kata Rusprita.Sementara itu, Kepala Program Perlindungan Anak UNICEF Indonesia, Milen Kidane, menyoroti kondisi perundungan di sekolah saat ini. “Meskipun banyak kemajuan, perundungan masih menjadi masalah serius. Setiap anggota sekolah, siswa, guru, pemimpin sekolah, hingga orang tua harus terlibat dalam upaya pencegahan,” jelasnya.Roots Day Nasional 2024 menjadi ajang untuk memperkuat komitmen bersama menciptakan sekolah yang bebas kekerasan. Acara ini dihadiri oleh 100 siswa agen perubahan dari Jakarta secara luring dan seluruh siswa agen perubahan dari seluruh Indonesia secara daring. Rangkaian acara meliputi laporan kegiatan, pembukaan, podcast, serta deklarasi “Sekolah Tanpa Kekerasan” oleh para agen perubahan, yang didampingi oleh Kepala Puspeka Kemendikbudristek dan Kepala Program Perlindungan Anak UNICEF Indonesia. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi