Jakarta (buseronline.com) - Pelajar Indonesia kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Dilansir dari laman Kemendikdasmen, dalam ajang Young Inventors Challenge (YIC) 2026, delegasi Indonesia berhasil membawa pulang empat medali dan empat penghargaan Consolation Prizes.
Prestasi tersebut terdiri atas satu medali emas, satu medali perak, dua medali perunggu, serta empat penghargaan Consolation Prizes. Penghargaan itu diraih delapan tim yang melibatkan 16 murid jenjang pendidikan menengah hasil pembinaan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Pengumuman pemenang dilakukan secara daring pada 4 November 2026. Capaian tahun ini meningkat dibandingkan 2025, ketika Indonesia hanya meraih satu medali perak dan satu penghargaan Consolation Prizes.
Kepala Pusat Prestasi dan Pembinaan Karakter (Puspreska) Kemendikdasmen RI Rusprita Putri Utami mengapresiasi keberhasilan para murid yang mampu menunjukkan kemampuan riset dan inovasi di tingkat internasional.
"Prestasi yang diraih dalam ajang YIC kali ini meningkat empat kali lipat, dari satu medali pada 2025 menjadi empat medali pada 2026. Jumlah tim penerima penghargaan juga meningkat dari dua tim pada 2025 menjadi delapan tim," ujar Rusprita.
Ia mengatakan, pencapaian tersebut tidak hanya berorientasi pada perolehan medali, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun karakter murid melalui pengembangan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, kreativitas, dan inovasi.
Medali emas berhasil diraih Tim ChemisTwin yang beranggotakan Safira Laksmi Dewi dan Prayogo Aryobimo dari SMA Nasional KPS Balikpapan. Keduanya mengembangkan inovasi pelapis superhidrofobik ramah lingkungan berbasis nanokristal selulosa untuk memberikan perlindungan terhadap material baja.
Selanjutnya, medali perak diraih Tim SYFORCE, Muhammad Sulthan Fadhil Ardani dan Alrizta Winant Maliki Herdyanto dari MAN Insan Cendekia Pekalongan. Tim ini mengembangkan perangkat wearable berbasis sistem fusi sensor untuk mengukur kelengkungan tulang belakang dalam mendeteksi skoliosis.
Sementara itu, dua medali perunggu masing-masing diraih Tim SCAB dari SMA Negeri 6 Yogyakarta dan Tim PORTIS dari SMA Negeri 1 Sumenep.
Tim SCAB yang diperkuat Revalina Marbun dan Kayra Naurin Aqueeni menciptakan perangkat pemandu cerdas serta sistem pemberitahuan darurat bagi penyandang tunanetra.
Adapun Tim PORTIS yang beranggotakan Cameela Ahmad dan Shaheza Aleesha Risky mengembangkan teknologi pemantauan dan pendeteksian praktik penangkapan ikan ilegal menggunakan drone yang dilengkapi sistem kecerdasan buatan.
Selain perolehan medali, empat tim Indonesia juga mendapatkan penghargaan Consolation Prizes. Penghargaan pertama diraih Tim DewaCerva dari SMA Negeri 8
Jakarta melalui penelitian potensi nanopartikel berbasis ekstrak daun dewandaru untuk terapi kanker serviks.
Kemudian, Tim Tirto's User dari SMA Negeri 2 Ponorogo mengembangkan sistem irigasi sawah otomatis terintegrasi berbasis kecerdasan artifisial.
Tim AKU DAH LUPA dari MAN 2 Kota Malang memperoleh penghargaan melalui pengembangan sistem pendeteksi penyakit Alzheimer berbasis analisis citra MRI. Sementara Tim AGRITEVO dari SMAS Islam Athirah, Sulawesi Selatan, mengembangkan inkubator kecambah benih padi berbasis Internet of Things (IoT) dengan dukungan energi surya.
Keberhasilan delegasi Indonesia tersebut merupakan hasil proses pembinaan berkelanjutan yang telah dimulai melalui Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2025.
Sebanyak 12 tim pemenang OPSI yang terdiri atas 24 murid mengikuti pra-pembinaan pada 2-6 Maret 2026 di
Jakarta. Setelah melewati Pembinaan Tahap I dan II, delapan tim berhasil lolos sebagai 32 besar finalis YIC 2026.
Para murid kemudian mengikuti presentasi dan wawancara utama secara daring pada 17 Oktober 2026 sebelum pengumuman pemenang.
Peraih medali emas, Safira Laksmi Dewi, mengaku bersyukur atas keberhasilan yang diraih bersama timnya. Ia menyebut pembinaan dari Kemendikdasmen sangat membantu dalam mengembangkan dan menyempurnakan penelitian.
"Alhamdulillah kami berhasil meraih medali emas. Melalui pembinaan, kami dapat mengembangkan dan menyempurnakan penelitian kami," ungkap Safira.