Medan (buseronline.com) - Universitas Sumatera Utara (USU) mengungkap potensi tanaman obat lokal Bosi-bosi (Timonius flavescens) asal Tapanuli Utara, Sumatera Utara, melalui penelitian berbasis teknologi ekstraksi ramah lingkungan dan pengujian aktivitas antikanker di laboratorium.
Penelitian yang dipimpin Muhammad Fauzan Lubis, dosen Departemen Biologi Farmasi, Fakultas Farmasi USU, tersebut menemukan 13 senyawa bioaktif utama dalam ekstrak daun Bosi-bosi.
Pengujian awal juga menunjukkan aktivitas antioksidan serta indikasi penghambatan pertumbuhan dan pemicu kematian sel kanker payudara. Informasi penelitian itu disampaikan melalui siaran pers USU di Medan, Senin (26/10/2026).
Bosi-bosi merupakan tanaman dari famili Rubiaceae yang tumbuh di kawasan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Masyarakat setempat telah lama memanfaatkan daunnya sebagai obat tradisional dengan cara direbus, kemudian air rebusannya diminum untuk meredakan nyeri hingga membantu mengatasi keluhan yang dikenal sebagai sakit gula atau diabetes.
Berangkat dari pengetahuan tradisional tersebut, Fauzan bersama timnya melakukan penelitian untuk mengidentifikasi kandungan kimia daun Bosi-bosi sekaligus mengeksplorasi potensi aktivitas biologisnya, termasuk terhadap sel kanker payudara.
"Tanaman yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah Timonius flavescens dari famili Rubiaceae. Kebetulan saya di fakultas berfokus pada biologi farmasi dan tanaman obat, jadi ada keinginan kuat untuk mengeksplorasi tanaman-tanaman khas daerah kita sendiri. Dari situ kami mencoba mencari tahu apa khasiat lainnya, salah satunya eksplorasi terhadap kanker," ujar Fauzan.
Penelitian yang dimulai pada 2023 itu didanai melalui skema EQUITY Project LPDP yang dikelola USU.
Dalam penelitian tersebut, tim tidak menggunakan metode perebusan tradisional, melainkan menerapkan teknologi ekstraksi yang dirancang untuk mengoptimalkan pengambilan senyawa bioaktif dari daun Bosi-bosi.
Salah satu metode yang digunakan adalah Natural Deep Eutectic Solvent (NADES), yakni sistem pelarut yang dibuat dari kombinasi kolin klorida, D-glukosa, dan air.
Metode tersebut dikembangkan dengan mempertimbangkan prinsip green chemistry atau kimia hijau, yaitu pendekatan yang berupaya mengurangi dampak lingkungan dalam proses kimia.
Tim juga menerapkan metode statistik Central Composite Design (CCD) berbasis Response Surface Methodology (RSM) untuk mengoptimalkan formulasi pelarut. Proses ekstraksi dipadukan dengan teknologi gelombang ultrasonik melalui metode Ultrasound-Assisted Extraction (UAE).
"Kami mencoba menggunakan pendekatan sains untuk mengoptimalkan potensi daun Bosi-bosi. Melalui formulasi pelarut NADES yang tepat, senyawa polifenol dan flavonoid di dalam daun dapat ditarik secara jauh lebih optimal," jelasnya.
Karakteristik ekstrak kemudian dianalisis menggunakan instrumen FTIR dan TEM. Selanjutnya, identifikasi senyawa bioaktif dilakukan menggunakan teknologi Liquid Chromatography-High Resolution Mass Spectrometry (LC-HRMS) dengan fasilitasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Hasil analisis mengidentifikasi 13 senyawa bioaktif utama. Sementara itu, pengujian antioksidan menggunakan metode DPPH menunjukkan aktivitas penghambatan radikal bebas sebesar 89,32 persen pada konsentrasi ekstrak 500 mikrogram per mililiter.
Tim peneliti kemudian menguji ekstrak daun Bosi-bosi terhadap tiga lini sel kanker payudara menggunakan metode MTT assay untuk mengevaluasi efek sitotoksiknya.
Pengujian dilengkapi dengan analisis flow cytometry dan penandaan imunositokimia guna mempelajari respons sel terhadap pemberian ekstrak.
Hasil penelitian menunjukkan adanya indikasi dua mekanisme utama, yakni penghentian siklus sel pada fase G0-G1 atau G0-G1 cell cycle arrest serta induksi apoptosis, yaitu proses kematian sel secara terprogram.
Pada mekanisme pertama, ditemukan penurunan ekspresi protein cyclin D1 yang berperan dalam pengaturan siklus dan pembelahan sel. Perubahan tersebut mengindikasikan adanya potensi penghambatan proses pembelahan sel kanker.
Sementara itu, pada mekanisme apoptosis, pengujian menunjukkan peningkatan kematian sel pada fase awal dan fase lanjut. Respons tersebut dikaitkan dengan peningkatan ekspresi protein p53 yang berperan dalam pengendalian siklus sel dan respons terhadap kerusakan sel.
"Penurunan ekspresi cyclin D1 menahan laju pembelahan sel tumor, sementara peningkatan p53 memicu sel kanker untuk mati secara terprogram," ungkap Fauzan.
Meski demikian, hasil pengujian tersebut masih merupakan temuan awal di laboratorium. Aktivitas ekstrak terhadap sel kanker dalam kondisi in vitro belum membuktikan efektivitasnya sebagai obat kanker pada manusia.
Selain menguji aktivitas biologis, tim juga melakukan uji toksisitas akut in vivo pada mencit dengan mengacu pada pedoman OECD Guideline 420.
Pengujian dilakukan menggunakan dosis tunggal ekstrak hingga 2.000 dan 5.000 miligram per kilogram berat badan. Hewan uji kemudian diamati selama 14 hari.
Berdasarkan hasil yang dilaporkan, tidak ditemukan kematian maupun gejala toksik pada hewan uji. Pertumbuhan berat badan berlangsung normal, sedangkan parameter hematologi dan biokimia darah, termasuk indikator fungsi hati dan ginjal, dilaporkan berada dalam rentang fisiologis normal.
Pemeriksaan histopatologi pada organ jantung dan ginjal juga menunjukkan struktur jaringan yang utuh berdasarkan pengamatan penelitian.
Temuan tersebut menjadi indikasi awal mengenai profil keamanan ekstrak dalam kondisi pengujian yang dilakukan. Namun, uji toksisitas akut belum cukup untuk memastikan keamanan penggunaan jangka panjang maupun menentukan keamanan dan efektivitasnya pada manusia.
Penelitian ini melibatkan kolaborasi sejumlah peneliti dari berbagai perguruan tinggi, di antaranya Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Kesehatan Helvetia Medan, Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) Jakarta, serta sejumlah fakultas di lingkungan USU.
Tim terdiri atas peneliti dengan keahlian di bidang formulasi, kultur sel, pengujian antikanker, histologi, dan toksikologi.
Pengujian sel kanker dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas laboratorium kultur sel di UGM. Sementara itu, pengujian toksisitas dan preparasi sampel dilaksanakan di USU.
Hasil penelitian tersebut juga telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Advances in Traditional Medicine yang diterbitkan Springer.
Fauzan menegaskan bahwa penelitian daun Bosi-bosi masih berada pada tahap studi pendahuluan. Tim belum menghasilkan produk obat dalam kemasan karena ekstrak yang dibuat masih digunakan untuk pengujian aktivitas biologis dan toksisitas.
Tahapan selanjutnya meliputi standardisasi formula, pengujian keamanan lanjutan, serta evaluasi dosis dan efektivitas sebelum diarahkan menuju pengembangan produk.
"Kami berharap penelitian ini bisa dilanjutkan ke tahap standardisasi formula agar mutu, khasiat, dan keamanannya konsisten. Kami juga perlu melakukan uji toksisitas subkronis sebelum melangkah ke ranah hilirisasi," paparnya.
Tim berharap penelitian tersebut dapat membuka peluang pengembangan bahan baku obat berbasis tanaman lokal, termasuk kemungkinan pemanfaatannya sebagai terapi pendamping antikanker setelah seluruh persyaratan ilmiah dan regulasi terpenuhi.
Riset ini menjadi salah satu upaya USU mengeksplorasi kekayaan hayati Sumatera Utara melalui pendekatan sains modern. Kendati hasil awalnya menunjukkan potensi biologis, penelitian lanjutan tetap diperlukan sebelum daun Bosi-bosi dapat dinilai layak digunakan sebagai terapi pada manusia.
Masyarakat diimbau tidak menggunakan ekstrak Bosi-bosi sebagai pengganti pengobatan kanker yang direkomendasikan tenaga medis. Potensi tanaman obat perlu dibuktikan melalui penelitian lanjutan yang ketat agar keamanan dan manfaatnya dapat dipertanggungjawabkan. (RP)