Semarang (buseronline.com) - Program Beasiswa Santri Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) membuka kesempatan bagi para santri untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
Dilansir dari laman Jatengprov, salah satunya Akhmad Khafidz Al Mubarok, santri asal Kabupaten Kudus yang kini menempuh pendidikan di Dalian University of Technology, China. Khafidz merupakan mahasiswa tahun pertama jurusan Computer Science and Technology.
Keberhasilannya melanjutkan pendidikan ke Negeri Tirai Bambu tidak lepas dari ketekunan belajar, dukungan keluarga, lingkungan pesantren, serta beasiswa yang difasilitasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP).
Perjalanan Khafidz meraih cita-cita kuliah di luar negeri bermula saat duduk di kelas IX Madrasah Tsanawiyah (MTs). Ketika berbincang melalui telepon, ayahnya menyarankan agar ia mulai belajar bahasa Mandarin untuk membuka peluang pendidikan dan karier di masa depan.
Sejak saat itu, Khafidz mulai mempelajari bahasa Mandarin secara mandiri, mulai dari menulis, membaca, memahami nada pengucapan, hingga menghafalkan kosakata. Meski menghadapi keterbatasan akses gawai dan tidak memiliki guru pendamping, ia tetap berusaha mengembangkan kemampuannya dengan belajar bersama teman.
Kesempatan belajar bahasa Mandarin secara lebih intensif datang ketika Khafidz duduk di kelas XII. Ia mendapat tawaran dari LP Ma'arif NU
Jawa Tengah untuk mengikuti program persiapan kuliah ke China.
Melalui program tersebut, Khafidz memperoleh bimbingan dari pengajar kompeten, termasuk penutur asli. Ia bersama beberapa peserta lainnya juga berhasil lulus ujian sertifikasi bahasa Mandarin sebagai bekal melanjutkan pendidikan di China.
Di tengah persiapannya, Khafidz mendapat informasi mengenai program Beasiswa Santri
Jawa Tengah melalui LFSP. Ia kemudian mengikuti seluruh tahapan seleksi hingga dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa.
"Terima kasih kepada Gubernur Jawa Tengah dan Wakil Gubernur Jawa Tengah, yang telah menyelenggarakan program beasiswa santri," ujar Khafidz saat dihubungi dari Semarang, pada 22 Oktober 2026.
Menurut Khafidz, beasiswa tersebut membantu meringankan beban finansial keluarga sehingga ia dapat melanjutkan pendidikan di luar negeri. Kini, selain menjalani perkuliahan, Khafidz juga belajar beradaptasi dengan kehidupan sebagai mahasiswa internasional.
Ia berkesempatan menjalin pertemanan dengan mahasiswa dari berbagai negara, mengenal budaya yang berbeda, serta mengikuti kegiatan pengembangan kemampuan di lingkungan kampus, termasuk klub robotika.
Ia berharap ilmu dan pengalaman yang diperolehnya selama belajar di China dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di masa mendatang.
Kisah serupa datang dari Happy Aisyi Madina, penerima Beasiswa Santri Jawa Tengah yang kini menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Bagi Aisyi, beasiswa tersebut merupakan amanah sekaligus kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan membantu meringankan beban finansial keluarga.
"Terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan kepada seluruh pengurus Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren Jawa Tengah, atas kesempatan yang sangat berharga dan amanah besar yang telah diberikan kepada saya," ungkap Aisyi.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Aisyi bertekad kembali mengabdikan diri di
Jawa Tengah. Ia berharap ilmu kedokteran yang dipelajarinya dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat.