Kemendikdasmen Latih Guru di Empat Provinsi untuk Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana

Heri - Kamis, 22 Oktober 2026 15:50 WIB
Kemendikdasmen RI memperkuat kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan melalui pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan di empat provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan NTT.

Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI memperkuat kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan melalui pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan di empat provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dilansir dari laman Kemendikdasmen, program yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Internasional Pengurangan Risiko Bencana tersebut bertujuan meningkatkan kompetensi guru dalam menghadapi situasi darurat, melindungi keselamatan peserta didik, serta memberikan dukungan psikososial kepada warga sekolah yang terdampak bencana.

Pelatihan ini mencakup dua materi utama, yaitu Kesiapsiagaan Bencana bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) serta Pelayanan Dukungan Psikososial Pascabencana bagi PTK.

Kegiatan tersebut melibatkan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemendikdasmen dengan dukungan mitra, termasuk Save the Children dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI).

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Nunuk Suryani menegaskan bahwa kesadaran terhadap risiko bencana harus menjadi bagian dari kompetensi guru. Menurutnya, kesiapsiagaan perlu dibangun sebelum bencana terjadi melalui penguatan pengetahuan, keterampilan, dan penerapan perilaku aman di satuan pendidikan.

"Guru perlu menyadari bahwa risiko bencana dapat terjadi kapan saja dan berdampak pada keselamatan siswa serta keberlangsungan pembelajaran," ujar Nunuk.

Ia menjelaskan bahwa guru harus memahami langkah mitigasi, mampu bertindak tenang dan tepat dalam situasi darurat, serta memberikan dukungan sesuai kebutuhan peserta didik. Kompetensi tersebut penting untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman dan tangguh terhadap bencana.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal Saiful Bari menyampaikan bahwa guru memiliki peran strategis dalam membangun kesiapsiagaan karena berinteraksi langsung dengan peserta didik.

Dalam sosialisasi bertema "Guru Tangguh, Sekolah Tangguh: Membangun Kesiapsiagaan Bencana Bersama", Saiful menekankan pentingnya kesiapan guru dalam memahami prosedur keselamatan, mengambil tindakan yang tepat, dan memperhatikan kebutuhan setiap siswa, termasuk mereka yang membutuhkan bantuan khusus.

Sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kompetensi pendidik, Kemendikdasmen melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan juga mengembangkan Modul Kesiapsiagaan Bencana dan Modul Pelayanan Dukungan Psikososial Pascabencana bagi PTK.

Modul tersebut diharapkan menjadi sumber belajar bagi guru untuk memahami tindakan yang perlu dilakukan sebelum, selama, dan setelah bencana, sekaligus menyesuaikan penerapannya dengan kondisi satuan pendidikan masing-masing.

Perwakilan Save the Children, Rina Utami, menegaskan bahwa kesiapsiagaan tidak cukup hanya dengan mengenali potensi bencana. Sekolah juga harus memastikan seluruh warga memahami jalur evakuasi, titik kumpul, dan prosedur keselamatan melalui latihan secara berkala.

Selain itu, sekolah perlu menyediakan perlengkapan darurat, seperti air minum, makanan tahan lama, obat-obatan pribadi, alat penerangan, alat komunikasi, dan dokumen penting. Ketersediaan perlengkapan tersebut perlu diperiksa secara rutin agar siap digunakan saat keadaan darurat.

Aspek pemulihan psikologis juga menjadi perhatian dalam program ini. Perwakilan Ikatan Psikolog Indonesia, Yuria Ekalitani, mengatakan bahwa dukungan psikososial tidak hanya diperlukan peserta didik, tetapi juga guru yang terdampak bencana.

Menurut Yuria, guru yang selama ini mendampingi siswa juga membutuhkan dukungan dan ruang untuk memulihkan diri agar dapat kembali menjalankan tugasnya secara efektif.

Manfaat pelatihan tersebut dirasakan oleh Nur Fajar Amalia, guru SMK Negeri 1 Meulaboh, Aceh. Ia mengatakan bahwa pelatihan membantunya memahami pentingnya menyusun rencana aksi yang jelas dalam menghadapi bencana.


Editor
: Administrator

Tag:

Berita Terkait

Pendidikan

Revitalisasi Sekolah di Tapanuli Utara, SDN 173281 Lumban Julu Kini Lebih Nyaman

Pendidikan

Rumah Pendidikan Hadirkan Pembelajaran Interaktif, Bantu Guru dan Siswa di SMA Negeri 80 Jakarta

Pendidikan

Revitalisasi Dua Sekolah di Kota Metro Capai 50 Persen, Ditargetkan Rampung Desember 2026

Pendidikan

Kemendikdasmen Perkuat Digitalisasi PAUD untuk Tingkatkan Kualitas Pembelajaran Anak Usia Dini

Pendidikan

Kemendikdasmen Raih Platinum Awards AHI 2026, Sabet 21 Trofi Penghargaan

Pendidikan

Kemendikdasmen Dorong Pendidikan Jadi Penggerak Konservasi Keanekaragaman Hayati