UIN Walisongo Semarang Bahas Strategi Melawan Islamofobia melalui Kampanye Public Relations

Heri - Jumat, 16 Oktober 2026 19:05 WIB
Kegiatan diselenggarakan WPRC mengusung tema “Public Relations Campaigns for Inclusion, Countering Islamophobia, and Advancing Religious Moderation”, berlangsung di Theater Lantai 4 Perpustakaan UIN Walisongo Semarang dan diikuti 120 mahasiswa.

Semarang (buseronline.com) - Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang menggelar International Guest Lecture untuk membahas strategi komunikasi publik dalam melawan Islamofobia, membangun inklusivitas, dan memperkuat moderasi beragama.

Dilansir dari laman Kemenag, kegiatan yang diselenggarakan oleh Walisongo Public Relations Community (WPRC) tersebut mengusung tema "Public Relations Campaigns for Inclusion, Countering Islamophobia, and Advancing Religious Moderation". Acara berlangsung di Theater Lantai 4 Perpustakaan UIN Walisongo Semarang dan diikuti 120 mahasiswa.

Kuliah tamu internasional ini menghadirkan Selin Aydin MA, Kepala Kantor Administrasi dan Kebijakan House of Representatives Berlin, Jerman, serta Zainurakhmah MA, dosen Islam dan Moderasi Beragama UIN Walisongo. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dekan FDK, Dr Nasihun Amin MAg.

Dalam sambutannya, Nasihun Amin mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut karena memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas wawasan mengenai praktik komunikasi strategis di tingkat internasional.

Menurutnya, menghadapi Islamofobia dan membangun citra Islam yang inklusif membutuhkan pemahaman terhadap konteks budaya, sensitivitas terhadap identitas, serta strategi komunikasi yang tepat.

Ia juga menekankan peran Public Relations (PR) dalam membangun pemahaman lintas budaya, memperjuangkan kesetaraan, dan menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin di tengah masyarakat global.

Berdasarkan data organisasi CLAIM, Jerman mencatat 3.080 insiden anti-Muslim sepanjang 2024, meningkat 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya upaya membangun komunikasi yang inklusif untuk mengurangi prasangka dan mendorong penerimaan sosial.

Dalam pemaparannya, Selin Aydin membagikan pengalaman mengenai rasisme anti-Muslim dan tantangan representasi kelompok minoritas di Jerman. Ia menjelaskan bahwa diskriminasi dapat berawal dari prasangka terhadap penampilan fisik maupun identitas seseorang.

Selin juga mengisahkan pengalamannya memimpin kampanye politik inklusif bertajuk "One of Us" atau "Einer von uns" di Berlin. Dalam kampanye tersebut, poster berbahasa Arab dan Turki sempat mendapat penolakan publik, sementara poster berbahasa Inggris diterima secara lebih wajar.

Pengalaman itu memperlihatkan adanya perbedaan penerimaan masyarakat terhadap representasi kelompok minoritas melalui bahasa. "The question here is who has the capability and access to speak in a room that was actually not made for them," ujar Selin.

Ia menjelaskan bahwa persoalan inklusivitas tidak hanya berkaitan dengan kesempatan berbicara, tetapi juga menyangkut akses dan ruang bagi kelompok yang selama ini kurang terwakili.

Selin menambahkan, kampanye Public Relations yang efektif harus diawali dengan pemahaman terhadap kebutuhan audiens, penetapan tujuan yang jelas, pembukaan ruang partisipasi publik, serta evaluasi terhadap respons masyarakat.

Menurutnya, kampanye tidak cukup hanya menyampaikan pesan. Masyarakat juga perlu merasa terwakili, memahami pesan yang disampaikan, dan terdorong untuk terlibat secara aktif.


Editor
: Administrator

Tag:

Berita Terkait

Pendidikan

Pemprov Jateng Percepat Verifikasi 4.230 Gerai Koperasi Merah Putih

Pendidikan

KPK Perluas Edukasi Antikorupsi di Jawa Tengah, Sasar Mahasiswa hingga Tokoh Agama

Pendidikan

Gajah Trail Run Ultra 2026 Diikuti 900 Pelari dari Tujuh Negara, Ekonomi Warga Bergerak

Pendidikan

Jateng Dinilai Berhasil Tekan Stunting, Demak dan Kabupaten Semarang Jadi Percontohan

Pendidikan

Pemprov Jateng Bebaskan Denda Pajak Kendaraan hingga Desember 2026

Pendidikan

Kemendikdasmen Perkuat Diplomasi Indonesia-Prancis Lewat Bahasa dan Sastra