Semarang (buseronline.com) - Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang menggelar International Guest Lecture untuk membahas strategi komunikasi publik dalam melawan Islamofobia, membangun inklusivitas, dan memperkuat moderasi beragama.
Dilansir dari laman Kemenag, kegiatan yang diselenggarakan oleh Walisongo
Public Relations Community (WPRC) tersebut mengusung tema "Public Relations Campaigns for Inclusion, Countering Islamophobia, and Advancing Religious Moderation". Acara berlangsung di Theater Lantai 4 Perpustakaan
UIN Walisongo Semarang dan diikuti 120 mahasiswa.
Kuliah tamu internasional ini menghadirkan Selin Aydin MA, Kepala Kantor Administrasi dan Kebijakan House of Representatives Berlin, Jerman, serta Zainurakhmah MA, dosen Islam dan Moderasi Beragama UIN Walisongo. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dekan FDK, Dr Nasihun Amin MAg.
Dalam sambutannya, Nasihun Amin mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut karena memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas wawasan mengenai praktik komunikasi strategis di tingkat internasional.
Menurutnya, menghadapi Islamofobia dan membangun citra Islam yang inklusif membutuhkan pemahaman terhadap konteks budaya, sensitivitas terhadap identitas, serta strategi komunikasi yang tepat.
Ia juga menekankan peran Public Relations (PR) dalam membangun pemahaman lintas budaya, memperjuangkan kesetaraan, dan menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin di tengah masyarakat global.
Berdasarkan data organisasi CLAIM, Jerman mencatat 3.080 insiden anti-Muslim sepanjang 2024, meningkat 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya upaya membangun komunikasi yang inklusif untuk mengurangi prasangka dan mendorong penerimaan sosial.
Dalam pemaparannya, Selin Aydin membagikan pengalaman mengenai rasisme anti-Muslim dan tantangan representasi kelompok minoritas di Jerman. Ia menjelaskan bahwa diskriminasi dapat berawal dari prasangka terhadap penampilan fisik maupun identitas seseorang.
Selin juga mengisahkan pengalamannya memimpin kampanye politik inklusif bertajuk "One of Us" atau "Einer von uns" di Berlin. Dalam kampanye tersebut, poster berbahasa Arab dan Turki sempat mendapat penolakan publik, sementara poster berbahasa Inggris diterima secara lebih wajar.
Pengalaman itu memperlihatkan adanya perbedaan penerimaan masyarakat terhadap representasi kelompok minoritas melalui bahasa. "The question here is who has the capability and access to speak in a room that was actually not made for them," ujar Selin.
Ia menjelaskan bahwa persoalan inklusivitas tidak hanya berkaitan dengan kesempatan berbicara, tetapi juga menyangkut akses dan ruang bagi kelompok yang selama ini kurang terwakili.
Selin menambahkan, kampanye Public Relations yang efektif harus diawali dengan pemahaman terhadap kebutuhan audiens, penetapan tujuan yang jelas, pembukaan ruang partisipasi publik, serta evaluasi terhadap respons masyarakat.
Menurutnya, kampanye tidak cukup hanya menyampaikan pesan. Masyarakat juga perlu merasa terwakili, memahami pesan yang disampaikan, dan terdorong untuk terlibat secara aktif.