Kemendikdasmen Perluas Makna Literasi di Era Digital dan AI

Heri - Sabtu, 12 September 2026 15:50 WIB
Mendikdasmen RI Abdul Mu'ti dalam Webinar Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 di Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI mendorong peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) 2026 menjadi momentum untuk memperluas pemaknaan literasi agar semakin relevan dalam menghadapi perubahan sosial, lingkungan, teknologi digital, dan perkembangan kecerdasan artifisial (AI).

Dilansir dari laman Kemendikdasmen, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu'ti mengatakan, peringatan HAI menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memperoleh hak dasar untuk belajar, memahami, dan mengembangkan diri.

"Ini adalah momentum refleksi dan aksi nyata bagi kita semua. Literasi saat ini memiliki makna yang lebih luas. Literasi tidak lagi sekadar dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis," ujar Abdul Mu'ti dalam Webinar Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 di Jakarta, pada 8 September 2026.

Menurutnya, di tengah perubahan sosial, krisis lingkungan, serta pesatnya perkembangan teknologi digital dan AI, masyarakat harus memiliki kemampuan memahami informasi secara kritis.

Masyarakat juga dituntut mampu merefleksikan informasi yang dikonsumsi, terus belajar sepanjang hayat, serta menggunakan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan.

Peringatan HAI 2026 menjadi istimewa karena bertepatan dengan 60 tahun sejak UNESCO menetapkan Hari Aksara Internasional pada 1966. Tahun ini, tema global yang diusung adalah "Literacy for People, the Planet, and Prosperity", yang diadaptasi Indonesia menjadi "Literacy for Others, the Universe, and Prosperity."

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin mengatakan, literasi harus mampu memberdayakan manusia agar dapat hidup bersama secara bermartabat, memahami hubungan dengan lingkungan, serta memiliki keterampilan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

"Oleh karena itu, literasi tidak boleh dipahami secara sempit. HAI bukan sekadar mengingat masa lalu, tetapi memastikan literasi tetap menjadi bekal manusia dalam menghadapi masa depan," kata Tatang.

Tatang menjelaskan, tantangan literasi saat ini jauh lebih luas dibandingkan masa lalu. Jika sebelumnya gerakan literasi berfokus pada kemampuan membaca dan menulis, kini masyarakat juga harus mampu membaca informasi, membedakan kebenaran dan kebohongan, berpikir kritis dalam menggunakan teknologi, serta memanfaatkan AI secara bijak dalam mengambil keputusan.

Ia merangkum perjalanan literasi dalam tiga kata, yakni sesama, semesta, dan sejahtera. Sesama bermakna bahwa literasi harus memberdayakan manusia dan mendorong kehidupan bersama yang bermartabat.

Semesta berarti manusia tidak hanya membaca buku, tetapi juga memahami alam serta tanggung jawab terhadap bumi. Sementara sejahtera menegaskan bahwa pengetahuan harus membuka peluang produktivitas dan meningkatkan kualitas hidup.


Editor
: Administrator

Tag:

Berita Terkait

Pendidikan

Pembelajaran STEM Dorong Siswa Ciptakan Solusi bagi Persoalan Lingkungan

Pendidikan

Kemendikdasmen Imbau Sekolah Utamakan Keselamatan di Tengah Erupsi Gunung Anak Krakatau

Pendidikan

Kemendikdasmen Dorong Pembelajaran STEM untuk Bentuk Generasi Kritis dan Kreatif

Pendidikan

Kemendikdasmen Percepat Pemulihan Pendidikan Pascagempa NTT

Pendidikan

50 Guru SMK Magang di Jerman, Bawa Teknologi Industri ke Sekolah

Pendidikan

4.021 Lulusan LKP Indonesia Dilepas Bekerja ke 11 Negara