Bekasi (buseronline.com) - Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Bekasi menerapkan sistem pendidikan berasrama sebagai upaya membentuk kemandirian, kedisiplinan, kesiapan belajar, serta karakter peserta didik.
Dilansir dari laman Jabarprov, sebelum mengikuti pembelajaran reguler, para siswa terlebih dahulu menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama 14 hari. Dalam masa tersebut, mereka dibiasakan menjalani rutinitas harian secara mandiri.
PIC Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Bekasi Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI), Budi Satriyo mengatakan MPLS menjadi tahap awal untuk membangun kedisiplinan dan kebiasaan positif siswa.
"Dua minggu, 14 hari. Di situ nanti anak-anak diajari kedisiplinan, misalkan menata kasur, kemudian mencuci, menyetrika, diajari bangun pagi, shalat Subuh bagi yang muslim, olahraga, mandi, sarapan, baru masuk kelas," ujar Budi usai pembukaan MPLS di Kompleks Pemkab Cikarang Pusat, pada 31 Agustus 2026.
Setelah menyelesaikan MPLS, siswa akan mengikuti program matrikulasi selama tiga bulan. Program ini bertujuan menyetarakan kemampuan akademik peserta didik sebelum memasuki pembelajaran reguler.
Menurut Budi, matrikulasi diperlukan karena latar belakang pendidikan peserta didik cukup beragam. Sebagian siswa pernah putus sekolah, bahkan ada yang sebelumnya tidak bersekolah.
"Ada yang putus sekolah, ada yang tidak sekolah. Atau mungkin anak-anak normal yang kurang beruntung. Jadi perlu disiapkan dulu, disetarakan dulu. Setelah masa itu baru pembelajaran normal," jelasnya.
Selain pembelajaran di kelas, siswa nantinya mengikuti kegiatan malam berupa character building. Kegiatan tersebut diisi dengan belajar kelompok, diskusi, serta pembelajaran agama sesuai keyakinan masing-masing.
"Yang muslim ngaji, shalat berjamaah. Kemudian yang nonmuslim ada pelajaran agama masing-masing. Bisa belajar kelompok atau mungkin diskusi bersama," katanya.
Sistem pendidikan berasrama tersebut membuat siswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran akademik, tetapi juga dilatih mengelola kehidupan sehari-hari, mulai dari menjaga kebersihan, mengatur waktu, hingga bertanggung jawab terhadap kebutuhan pribadi.
Selama mengikuti pendidikan, peserta didik juga tidak diperkenalkan menggunakan telepon seluler sebagai bagian dari pola kehidupan di lingkungan sekolah berasrama.
Dari sisi kesehatan, seluruh siswa telah memiliki kepesertaan BPJS Kesehatan. Pihak sekolah juga berkoordinasi dengan BPJS untuk memindahkan fasilitas kesehatan tingkat pertama siswa ke puskesmas yang berada di sekitar sekolah.