Medan (buseronline.com) - Universitas Sumatera Utara (USU) melakukan relokasi sementara Chapel USU sebagai bagian dari rencana penataan dan renovasi rumah ibadah di lingkungan kampus. Renovasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas sekaligus kualitas fasilitas pembinaan kerohanian bagi sivitas akademika dan warga Kristen di lingkungan USU.
Ketua Persekutuan Iman Warga Kristen (PIWK) USU, Prof Dr Robert Sibarani MS mengatakan Chapel selama ini menjadi salah satu fasilitas penting bagi kegiatan pembinaan kerohanian mahasiswa, dosen, pegawai, serta warga Kristen di lingkungan USU.
"Chapel selama ini difungsikan sebagai sarana pembinaan kerohanian bagi mahasiswa, dosen, pegawai, dan warga Kristen di lingkungan USU. Seiring meningkatnya jumlah mahasiswa Kristen, kebutuhan terhadap fasilitas pembinaan kerohanian yang lebih memadai juga semakin besar," ujar Robert di Medan, Senin (10/8/2026).
Ia menyebutkan, jumlah mahasiswa Kristen di USU saat ini diperkirakan lebih dari 9.000 orang yang tersebar di 16 fakultas. Sementara kapasitas Chapel yang tersedia saat ini hanya sekitar 300 hingga 350 orang.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan perlunya renovasi dan peningkatan kapasitas Chapel agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik.
"Dengan jumlah mahasiswa Kristen yang terus bertambah, kapasitas Chapel saat ini tentu perlu ditingkatkan. Karena itu, renovasi merupakan bagian dari upaya menyediakan fasilitas yang lebih representatif dan mampu memenuhi kebutuhan pembinaan kerohanian di lingkungan USU," katanya.
Robert juga meminta seluruh pihak melihat proses relokasi secara proporsional. Ia menegaskan bahwa penataan Chapel merupakan bagian dari proses administratif dan mengajak semua pihak mengedepankan komunikasi agar suasana di lingkungan kampus tetap kondusif.
Sementara itu, Ketua Panitia Hari Besar Kristen USU yang juga Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kerja Sama, Prof Dr Eng Himsar Ambarita ST MT memastikan kegiatan keagamaan tetap berlangsung selama Chapel menjalani proses renovasi.
Menurut Himsar, pihak universitas telah menyediakan gedung sementara yang dapat digunakan untuk kegiatan pembinaan kerohanian dan peribadatan.
"Selama proses renovasi berlangsung, kampus tetap memfasilitasi gedung yang dapat digunakan untuk kegiatan kerohanian. Dengan demikian, kegiatan pembinaan dan aktivitas keagamaan tetap dapat berjalan meskipun Chapel sedang dalam proses penataan dan renovasi," ujar Himsar.
Ia mengatakan penyediaan tempat sementara merupakan bentuk komitmen USU untuk memastikan kegiatan keagamaan sivitas akademika tetap mendapatkan ruang yang memadai.
Direktur Direktorat Pengelolaan Infrastruktur Akademik USU, Rapido P Gultom ST MSi menegaskan Chapel USU sejak awal diperuntukkan sebagai rumah ibadah dan tidak direncanakan untuk dialihfungsikan.
Rapido menjelaskan, rencana renovasi Chapel bukan merupakan rencana baru. Menurutnya, renovasi telah direncanakan sejak 2015 dengan mempertimbangkan kebutuhan ruang serta kondisi lingkungan di sekitar bangunan.
Salah satu pertimbangannya adalah lokasi Chapel yang kerap terdampak banjir ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Karena itu, penataan dan peningkatan infrastruktur dinilai diperlukan untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan jemaat.
"Yang perlu kami tegaskan, Chapel USU tetap diperuntukkan menjadi rumah ibadah bagi civitas akademika dan warga Kristen di lingkungan USU. Renovasi dilakukan untuk meningkatkan fungsi, kualitas, keamanan, dan kenyamanan bangunan, bukan untuk mengubah fungsi Chapel," ujar Rapido.
Ia menambahkan, selama renovasi berlangsung, USU tetap menjamin tersedianya tempat sementara untuk beribadah sehingga kegiatan peribadatan dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Di tengah proses relokasi, salah seorang warga turut menyatakan dukungan terhadap rencana renovasi Chapel USU. Ia menilai relokasi sementara bukan merupakan bentuk pelarangan kegiatan ibadah karena universitas tetap menyediakan tempat untuk kegiatan keagamaan.
"USU sudah baik. Ini bukan melarang orang beribadah. Dipindahkan ada tempat sementara, ini dibuat untuk mahasiswa USU bisa digunakan untuk kegiatan beribadah. Kalau ditanya siapa saya, saya anak Dr. Hotma Panggabean yang ikut membangun Chapel ini," katanya.
USU berharap renovasi Chapel nantinya dapat menghadirkan fasilitas rumah ibadah yang lebih representatif dengan kapasitas lebih besar, sekaligus memberikan keamanan dan kenyamanan bagi mahasiswa, dosen, pegawai, serta warga Kristen di lingkungan kampus.
Dengan demikian, fungsi Chapel sebagai sarana peribadatan dan pembinaan kerohanian di lingkungan USU diharapkan tetap berjalan dan dapat melayani kebutuhan sivitas akademika dalam jangka panjang. (RP)