Semarang (buseronline.com) - Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengusulkan agar pendidikan vokasi di Indonesia mulai dikenalkan sejak jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) guna membantu peserta didik mengenali potensi dan menentukan arah pengembangan kompetensi sejak dini.
Usulan tersebut disampaikan Taj Yasin saat membuka The 8th International Conference on Vocational Education Applied Science and Technology (ICVEAST) 2026 yang diselenggarakan Universitas Indonesia bekerja sama dengan Universitas Diponegoro di Hotel Gumaya Semarang, Kamis.
"Kalau kita bicara tentang vokasi, harusnya tidak dimulai dari SMK, akan tetapi di bawahnya, yaitu di jenjang SMP," kata Taj Yasin dilansir dari laman Jatengprov.
Menurutnya, pengenalan pendidikan vokasi sejak dini akan memberikan ruang lebih luas bagi peserta didik untuk mengenali bakat dan minatnya. Dengan demikian, saat memasuki Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), siswa telah memiliki arah pengembangan kompetensi yang lebih jelas.
Taj Yasin menilai konsep tersebut sebenarnya telah mulai diterapkan di lingkungan madrasah melalui keberadaan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Sains di bawah Kementerian Agama yang memperkuat pembelajaran sains dan teknologi sejak jenjang pendidikan menengah pertama.
"Harusnya ada SMP-SMP yang juga mengarah ke vokasi, sehingga bisa berkesinambungan dengan SMK," ujarnya.
Selain dimulai sejak dini, pendidikan vokasi, kata dia, juga harus memiliki jalur yang berkelanjutan hingga perguruan tinggi. Menurutnya, tiga tahun pendidikan di SMK baru menjadi tahap pengenalan sehingga pendalaman kompetensi perlu dilanjutkan melalui pendidikan diploma maupun sarjana terapan.
"Vokasi itu tidak selesai di jenjang SMK, harus dilanjutkan. Tiga tahun di SMK itu sebenarnya baru tahap pengenalan," katanya.