SPMB PAUD Utamakan Pendekatan Ramah Anak, Orientasi Jadi Sarana Kenali Karakter Murid

Heri - Rabu, 08 Juli 2026 15:00 WIB
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti.

Semarang (buseronline.com) - Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) semakin mengedepankan pendekatan yang ramah anak.

Alih-alih memberikan tes membaca atau berhitung, satuan PAUD mengawali proses penerimaan melalui kegiatan orientasi dan bermain sebagai cara mengenali karakter serta kesiapan belajar peserta didik.

Dilansir dari laman Kemendikdasmen, pendekatan tersebut diterapkan di TK 'Aisyiyah Terpadu Birrul Walidain, Kudus. Anak-anak yang mengikuti SPMB diajak berinteraksi, bermain, dan mengenal lingkungan sekolah.

Sementara itu, orang tua memperoleh penjelasan mengenai proses pembelajaran serta kesempatan membangun komunikasi dengan pihak sekolah sejak awal.

Salah seorang orang tua murid Eni Uswati mengatakan proses pendaftaran berlangsung mudah dengan persyaratan berupa akta kelahiran, Kartu Keluarga, dan pas foto. Setelah proses verifikasi, anak mengikuti orientasi sebagai asesmen awal agar guru dapat mengenali karakter masing-masing peserta didik.

Menurut Eni, kepercayaan terhadap sekolah tersebut didasarkan pada pengalaman tiga anaknya yang telah lebih dulu bersekolah di sana. Ia menilai lingkungan belajar yang ramah dan perhatian guru mampu membantu perkembangan karakter, kemandirian, serta pembiasaan nilai-nilai keagamaan.

Hal senada disampaikan Fathur Rohman. Ia kembali memilih sekolah yang sama setelah putranya menempuh pendidikan di Kelompok Bermain. Menurutnya, pendidikan anak usia dini seharusnya menjadi ruang bagi anak untuk tumbuh mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki karakter yang baik, bukan sekadar mengejar kemampuan akademik.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan fondasi penting bagi perkembangan anak pada jenjang pendidikan selanjutnya.

Oleh karena itu, pemerintah memasukkan PAUD ke dalam program Wajib Belajar 13 Tahun, sekaligus memperluas dukungan melalui Program Indonesia Pintar (PIP) bagi peserta didik TK dari keluarga sasaran dan meningkatkan kompetensi guru PAUD.

Ia juga mengingatkan agar satuan pendidikan tidak memberikan tuntutan akademik yang berlebihan kepada anak usia dini. Menurutnya, masa tersebut harus dimanfaatkan untuk bermain, bersosialisasi, melatih kemampuan motorik, membangun rasa percaya diri, menanamkan kebiasaan baik, serta membentuk karakter sebagai bekal memasuki jenjang pendidikan berikutnya.

Kepala TK 'Aisyiyah Terpadu Birrul Walidain, Ami mengatakan seluruh informasi mengenai SPMB disampaikan secara terbuka agar orang tua memahami visi sekolah, kurikulum, dan pola kolaborasi yang akan dibangun selama proses pendidikan.

Sementara itu, Ketua Panitia SPMB, Lelly menjelaskan layanan pendaftaran disediakan secara langsung, daring, maupun melalui WhatsApp untuk memudahkan orang tua. Menurutnya, berbagai jalur komunikasi tersebut dihadirkan agar proses pendaftaran berlangsung nyaman dan seluruh dokumen dapat diverifikasi secara teliti.

Pelaksanaan SPMB PAUD yang ramah anak diharapkan tidak hanya menjadi proses administrasi penerimaan peserta didik baru, tetapi juga menjadi langkah awal membangun sinergi antara sekolah, keluarga, dan pemerintah dalam menumbuhkan karakter, kemandirian, serta kecintaan anak terhadap belajar sejak usia dini. (R)

Editor
: Administrator

Tag:

Berita Terkait

Pendidikan

Kemendikdasmen Perkuat Mutu Pembelajaran lewat Supervisi Pengelolaan Kinerja 2026

Pendidikan

Kemendikdasmen Luncurkan SPMB PJJ 2026, Upaya Kembalikan Jutaan Anak Tidak Sekolah

Pendidikan

Pemko Bandung Verifikasi Data Kependudukan untuk Pastikan SPMB Berjalan Adil

Pendidikan

NTP Jawa Tengah Naik 0,75 Persen pada Juni 2026, Daya Beli Petani Meningkat

Pendidikan

Jateng Tetap Jadi Magnet Investasi, Gubernur Ahmad Luthfi: Iklim Usaha Kondusif

Pendidikan

Bunda PAUD Sragen: Pendidikan Prasekolah Penting untuk Kesiapan Anak Masuk SD