Bandung (buseronline.com) - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan komitmen Pemerintah Kota (Pemko) Bandung untuk memastikan setiap anak memperoleh hak atas pendidikan.
Selain melalui kebijakan pemerintah, upaya tersebut diperkuat melalui kolaborasi dengan masyarakat, salah satunya lewat Rumah Belajar Sabilulungan.
Hal itu disampaikan Farhan saat menghadiri kegiatan Sarendeuk Saigel Sabilulungan Rumah Belajar di Pendopo Kota Bandung, Senin.
Dalam kesempatan itu, Farhan berdialog dengan para siswa yang mengikuti kegiatan belajar. Saat ditanya alasan mereka senang belajar di Rumah Belajar Sabilulungan, para siswa kompak menjawab karena para guru mengajar dengan baik, ceria, dan menyenangkan.
Menurut Farhan, jawaban tersebut menunjukkan bahwa lingkungan belajar yang nyaman mampu meningkatkan semangat anak untuk menimba ilmu.
"Ketika mendengar jawaban jujur dari anak-anak, ada kebahagiaan tersendiri. Semua yang kita lakukan untuk mereka terasa sangat berharga," kata Farhan.
Farhan juga mengenang pengalamannya mengikuti program Sekolah Inspirasi beberapa tahun lalu. Menurutnya, para relawan yang datang untuk berbagi ilmu justru memperoleh pelajaran berharga dari dedikasi para guru dalam mendidik anak-anak.
Ia menilai semangat serupa hadir di Rumah Belajar Sabilulungan. Para relawan tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga belajar mengenai kepedulian, harapan, dan kebahagiaan bersama anak-anak.
"Kalau membangun rumah dilakukan bata demi bata, maka membangun bangsa dimulai dari anak demi anak," ujarnya dilansir dari laman Jabarprov.
Meski demikian, Farhan mengakui pemerataan pendidikan di Kota
Bandung masih menghadapi tantangan. Selain faktor ekonomi, persoalan psikologis dan kondisi keluarga juga menjadi penyebab sejumlah anak tidak melanjutkan pendidikan.
Ia mengungkapkan, saat berkantor keliling di berbagai kelurahan, masih kerap menemukan anak-anak yang memiliki kesempatan bersekolah tetapi memilih berhenti karena persoalan di lingkungan keluarga.
"Keterbatasan akses pendidikan bukan hanya karena ekonomi. Ada juga faktor psikologis dan kondisi keluarga yang membuat anak enggan bersekolah," ungkapnya.
Sebagai contoh, Farhan menceritakan seorang anak berusia sembilan tahun yang belum pernah mengenyam pendidikan. Berkat kolaborasi berbagai pihak, anak tersebut akhirnya diarahkan mengikuti program Sekolah Rakyat agar tetap mendapatkan hak belajar.
Menurutnya, keberadaan Rumah Belajar Sabilulungan menjadi pelengkap penting bagi sistem pendidikan formal karena mampu menjangkau anak-anak yang membutuhkan pendekatan yang lebih fleksibel.
Selain pendidikan, Farhan juga menekankan pentingnya kepemilikan Kartu Identitas Anak (KIA) agar setiap anak dapat mengakses berbagai layanan pemerintah, termasuk pendidikan dan bantuan sosial.