Sragen (buseronline.com) - Bunda PAUD Kabupaten Sragen Linda Sigit Pamungkas menegaskan pentingnya pendidikan anak usia dini (PAUD) sebagai fondasi dalam mempersiapkan anak memasuki jenjang sekolah dasar.
Dilansir dari laman Jatengprov, seluruh anak usia 4-6 tahun didorong mengikuti pendidikan prasekolah agar memiliki kesiapan belajar, sosial, mental, dan psikologis yang lebih baik.
Pernyataan tersebut disampaikan Linda saat melakukan roadshow evaluasi dan pemantauan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) PAUD di TK Negeri Pembina Karangmalang dan TK Puro 2 Karangmalang, Jumat.
Dalam kesempatan itu, Linda mengatakan Pemerintah Kabupaten
Sragen terus mengintensifkan sosialisasi kebijakan wajib belajar 13 tahun yang mencakup satu tahun pendidikan prasekolah dan 12 tahun pendidikan dasar serta menengah.
"Tambahan satu tahunnya adalah pendidikan prasekolah atau TK. Dengan mengikuti satu tahun prasekolah, anak-anak akan lebih siap ketika masuk SD, baik dari segi materi pembelajaran maupun kesiapan mentalnya. Harapannya, tidak ada satu pun anak yang tertinggal untuk mendapatkan pendidikan sejak usia dini," ujarnya.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten
Sragen, saat ini terdapat 882 satuan PAUD yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten
Sragen. Jumlah tersebut terdiri atas 556 Taman Kanak-kanak (TK), 191 Kelompok Bermain (KB), 124 Satuan PAUD Sejenis (SPS), dan 11 Tempat Penitipan Anak (TPA).
Linda menjelaskan, roadshow dilakukan untuk memastikan pelaksanaan SPMB PAUD berjalan sesuai ketentuan sekaligus melihat langsung pelayanan kepada calon peserta didik dan orang tua.
Hasil pemantauan menunjukkan proses penerimaan murid baru di kedua sekolah berlangsung lancar tanpa kendala berarti. Selain pemeriksaan administrasi, sekolah juga melaksanakan observasi perkembangan anak dan skrining kesehatan sebagai bagian dari deteksi dini.
Menurut Linda, observasi dilakukan oleh tenaga yang telah memiliki kompetensi dan pelatihan sehingga hasilnya dapat menjadi dasar bagi guru dalam menyusun strategi pembelajaran sesuai kebutuhan masing-masing anak.
"Observasi ini bertujuan untuk mendeteksi sejak dini perkembangan anak. Jika ditemukan kebutuhan tertentu, guru sudah bisa mempersiapkan strategi pembelajaran yang tepat ketika anak mulai mengikuti proses belajar," katanya.
Selain observasi, calon peserta didik juga menjalani skrining kesehatan yang meliputi pemeriksaan kemampuan motorik, pendengaran, penglihatan, serta kondisi kesehatan secara umum.
Linda menegaskan, hasil skrining bukan menjadi dasar diterima atau tidaknya seorang anak di PAUD. Pemeriksaan tersebut bertujuan mengidentifikasi kondisi anak sejak dini agar orang tua dapat segera memperoleh penanganan yang tepat apabila ditemukan indikasi gangguan.
"Kalau misalnya terdeteksi ada gangguan pendengaran, penglihatan, atau yang lainnya, itu akan dicatat dan orang tua akan diarahkan untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Jadi bukan berarti anak tidak diterima, tetapi justru agar mereka memperoleh haknya untuk belajar dengan kondisi yang lebih siap," tutupnya. (R)