Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat kualitas pendidikan dan literasi nasional melalui pemetaan kemahiran berbahasa Indonesia berbasis data.
Dilansir dari laman
Kemendikdasmen, upaya tersebut dilakukan melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) dengan memperluas pelaksanaan Uji Kemahiran Ber
bahasa Indonesia (UKBI) Adaptif sebagai acuan penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Diseminasi Nasional Kemahiran Berbahasa Indonesia di Jakarta yang sekaligus menjadi ajang peluncuran Buku Peta Kemahiran Berbahasa Indonesia. Buku tersebut memuat gambaran tingkat kemahiran berbahasa masyarakat Indonesia di tingkat nasional maupun provinsi.
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, mengatakan hasil UKBI Adaptif bukan sekadar data statistik, melainkan instrumen penting untuk mengevaluasi kemampuan ber
bahasa masyarakat di berbagai jenjang pendidikan, profesi, dan wilayah.
"Data kemahiran berbahasa Indonesia merupakan informasi penting terkait tingkat kemahiran berbahasa Indonesia di berbagai jenjang pendidikan, kalangan profesional, dan wilayah tertentu. Para pemangku kepentingan dapat menjadikannya sebagai bahan evaluasi, bahkan sebagai dasar pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan kemahiran berbahasa Indonesia," ujar Hafidz.
Berdasarkan hasil pemetaan tahun 2025, angka kemahiran ber
bahasa Indonesia secara nasional mencapai skor 64,23. UKBI Adaptif diikuti oleh 321.383 peserta dari 38 provinsi dan 493 kabupaten/kota. Selain itu, sebanyak 243 warga negara asing dari 51 negara turut mengikuti pengujian tersebut.
Meski partisipasi terus meningkat, Badan Bahasa menilai keterlibatan mahasiswa masih perlu diperluas. Dari seluruh peserta UKBI Adaptif tahun 2025, sebanyak 84,9 persen merupakan pelajar, sedangkan mahasiswa hanya mencapai 10,3 persen atau sekitar 33.080 peserta.
"Hal ini perlu menjadi perhatian perguruan tinggi agar kemahiran ber
bahasa Indonesia menjadi bagian penting dalam peningkatan literasi mahasiswa," kata Hafidz.
Selain memperluas pemetaan, Kemendikdasmen juga mengembangkan layanan UKBI Adaptif bagi penyandang disabilitas rungu sebagai bentuk komitmen menghadirkan layanan kebahasaan yang inklusif.
Pengembangan dimulai sejak 2024 dan diuji coba secara nasional pada Oktober 2025 dengan melibatkan 222 peserta dari berbagai daerah. Materi ujian disesuaikan dengan karakteristik pengalaman ber
bahasa peserta tanpa mengurangi kualitas pengukuran.
Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Pendidikan, Moch Abduh menegaskan layanan tersebut akan terus disempurnakan seiring perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat. "Kami akan terus menyiapkan berbagai bentuk adaptasi sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan teknologi," ujarnya.
Melalui pemetaan kemahiran ber
bahasa yang semakin luas dan inklusif,
Kemendikdasmen berharap hasil UKBI Adaptif dapat menjadi dasar pengembangan pembelajaran, peningkatan literasi, serta penyusunan kebijakan ke
bahasaan dan pendidikan yang lebih efektif, berbasis data, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. (R)